Nativisme Adalah? Ini Pengertian dan Konsep Pemikirannya


Istilah nativisme berasal dari kata natie yang artinya “terlahir”. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam memengaruhi perkembangan anak. Pembawaan tidak dapat diubah dari kekuatan luar.

Pandangan itu tidak menyimpang dari kenyataan. Misalnya, anak mirip orangtuanya secara fisik dan akan mewarisi sifat dan bakat orangtua. Prinsipnya, pandangan nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia, yaitu daya-daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter, serta kemampuan dasar lainnya yang kapasitasnya berbeda dalam diri tiap manusia.

Ada yang tumbuh dan berkembang sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya sampai pada titik tertentu. Misalnya, seorang anak berasal dari orangtua yang ahli seni musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi kemampuan orangtuanya, mungkin juga hanya sampai pada yang setengah kemampuan orangtuanya.

Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa anak sejak lahir. Pada hakikatnya, aliran nativisme bersumber dari leibnitzian tradition yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak, sedangkan faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Arthur Schopenhauer lahir di Frankfurt tanggal 22 Februari 1788 M, seorang filsuf Jerman yang dikenal beraliran nativisme. Hasil perkembangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetik dari kedua orangtua.

Schopenhauer berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah lengkap dengan pembawaan baik maupun buruk. Pembawaan merupakan kemampuan psikologis dengan berbagai kecenderungan, seperti minat, bakat, keturunan, dan yang lainnya. Secara keseluruhan, merupakan faktor penentu dari perkembangan dan pertumbuhan (Kuswana, 2013: 30).

Faktor pembawaan dipandang paling dominan untuk membentuk diri sendiri anak, dibandingkan dengan hal-hal yang datang dari luar. Schopenhauer percaya bahwa manusia termotivasi hanya oleh keinginan dasar mereka sendiri, atau yang mengarahkan semua umat manusia. Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak itu sendiri.

Perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh sebab itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Artinya, jika anak memiliki bakat jahat sejak lahir, maka anak akan menjadi jahat, dan sebaliknya, jika anak memiliki bakat baik, maka anak akan menjadi baik.

Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat, mengakibatkan tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri. Meskipun demikian, kenyataan sehari-hari sering ditemukan anak mirip orangtuanya (secara fisik) yang mewarisi bakat-bakat yang ada pada orangtuanya, tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang dapat memengaruhi pembentukan dan perkembangan anak.

Nativisme Adalah? Ini Pengertiannya

Pada dasarnya pengertian Nativisme adalah pandangan bahwa keterampilan-keterampilan atau kemampuan-kemampuan tertentu bersifat alamiah atau sudah tertanam dalam otak sejak lahir.

Aliran nativisme adalah suatu aliran dalam diri individu terdapat jati diri yang mendorong manusia untuk mengaktualisasikan diri, mendorong manusia untuk menentukan pilihan dan kemauan sendiri yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan.

Meskipun pandangan ini mengakui pentingnya belajar, namun pengalaman dalam belajar atau penerimaan persepsi seseorang ditentukan oleh kemampuan memberikan makna apa yang dialaminya. Dengan kata lain, pengalaman belajar ditentukan oleh internal frame of reference yang dimilikinya.

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Manusia Menurut Teori nativisme

Adapun beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan manusia dalam teori nativisme sebagai berikut.

Pertama adalah Faktor genetik, yaitu faktor dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Misalnya, jika kedua orangtua seorang anak berprofesi penyanyi, maka besar kemungkinan si anak memiliki bakat pembawaan gen penyanyi dari orang tuanya.

Kedua adalah faktor kemampuan anak. Faktor ini adalah faktor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Anak dapat mengembangkan potensi yang dalam dirinya. Misalnya, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah mendorong setiap anak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya. orangtuanya.

Lalu yang ketiga adalah faktor pertumbuhan anak. Faktor ini mendorong anak mengetahui bakat dan minat pada setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami, sehingga pertumbuhan anak itu normal. Anak akan bersikap energik, aktif, dan responsif terhadap kemampuan dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal, maka anak tersebut tidak bisa mengenali bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

Schopenhauer (1788) menyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir atau bakat, sehingga manusia diharapkan mampu memunculkan bakat yang dimilikinya dengan mendorong manusia mewujudkan diri melalui kompetensi; mendorong manusia dalam menentukan pilihan; mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang; dan mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimilikinya.

Selanjutnya, teori nativisme menyatakan bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan oleh faktor hereditas, yaitu faktor yang bersifat kodrati. Faktor pembawaan yang bersifat kodrat dan dibawa semenjak manusia dilahirkan tidak dapat diubah oleh lingkungan sekitar ataupun pendidikan.

Potensi-potensi hereditas itulah yang menjadi pribadi seseorang, bukanlah hasil dari pendidikan. Tanpa potensi hereditas yang baik, seseorang tidak mungkin mencapai taraf yang dikehendaki meskipun telah dididik secara maksimal.

Hal ini berarti bahwa seseorang dengan hereditas rendah akan tetap selamanya bersifat rendah, meskipun telah dewasa dan dididik secara maksimal. Aliran nativisme ini dianggap sebagai ajaran yang pesimistis, karena hanya mengandalkan kepribadian anak yang dibawanya tanpa ada kepercayaan bahwa nilai-nilai pendidikan dapat mengubah kepribadian tersebut.

Demikianlah informasi mengenai topik yang berjudul Nativisme Adalah? Ini Pengertian dan Konsep Pemikirannya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam berbagi teman-teman.

Daftar Pustaka/Referensi: 

Jusrin Efendi Pohan. 2019. Filsafat Pendidikan: Teori Klasik Hingga Postmodernisme dan Problekatikanya di Indonesia. Ed 1, Cet. 1. Depok: Rajawali Pers. Hlm: 92-95

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *