Macam-Macam Model Komunikasi? Ini Jawabannya


Berkaitan dengan teori komunikasi, Little John menggambarkan bahwa berbagai macam aspek teori komunikasi yang ada sulit untuk dapat mengklasifikasikan teori komu- nikasi. Bahkan beragam sistem kategori telah banyak pula dilakukan oleh para pakar, termasuk beberapa skema yang juga digunakan, untuk dapat menyatakan secara sempurna tentang teori komunikasi itu sendiri.

Bukan berarti, kesulitan tersebut menghalangi kita untuk mempelajari teori komunikasi. Setidaknya ada lima model yang dilontarkan Little John (1995: 13-17) sebagai perwakilan dalam menggambarkan teori komunikasi, yaitu: structural and functional theories, cognitive and behavioral theories, interactionist theories, interpretative theories, serta critical theories.

Dalam structural and functional theories, lebih mengkhususkan pada kategori umum dan hubungannya di antara berbagai tipe dari berbagai sistem. Sebagai contoh dalam sebuah sistem organisasi baik di perusahaan maupun di organisasi kemasyarakat, kita dapat mengetahui fungsi dari setiap orang dalam level maupun kedudukan tertentu beserta tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Akan tetapi, di sisi lain kita tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana perasaan maupun apa yang dialami oleh orang tertentu dalam suatu level yang berkaitan dengan hubungannya dengan orang yang berada di atas mereka. Sementara dalam cognitive and behavioral theories lebih menekankan pada aspek pemikiran manusia.

Teori ini lebih menjelaskan tentang aspek psikologi dari suatu individu dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang sangat dinamis. Lebih tepat untuk menggambarkan bagaimana individu itu dimaknai secara umum daripada menguraikan tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan individu lain.

Di sinilah interactionist theories berperan. Model teori ini melihat bahwa kebiasaan individu itu tidak bisa terlepas dari norma maupun aturan yang dibentuk oleh sekelompok individu (masyarakat). Bahkan dalam tingkatan tertentu interactionist theories menjelaskan bagaimana individu maupun sekelompok individu itu berubah dari satu situasi ke situasi lainnya, dari satu keadaan ke keadaan lain.

Model selanjutnya, yaitu interpretative theories memungkinkan untuk melihat individu itu baik dari pengalaman, teks (dokumen) maupun struktur sosial di mana ndividu itu berada. Adapun pada chritical theories menekankan pada aspek nilai atau keinginan dalam menilai setiap kegiatan, beragam situasi maupun institusi.

Masing-masing model untuk menjabarkan teori komunikasi dari berbagai sudut pandang. Tentu saja antara teori yang satu dengan teori yang lainnya memiliki kelebihan dan kelemahan. Satu teori bisa menjelaskan apa yang tidak dapat dijangkau teori yang lain, begitu juga sebaliknya.

Bukan berarti mengandung kelemahan di sini menandakan bahwa tidak ada pendekatan terhadap teori komunikasi yang mumpuni, melainkan beragamnya model dari teori komunikasi ini memberikan alternatif pilihan terhadap pendekatan yang dilakukan dalam memahami teori komunikasi itu sendiri.

Macam-Macam Model Komunikasi Adalah?

Pelbagai macam model komunikasi yang ada sangat dipengaruhi oleh proses komunikasi manusia yang berada dalam berbagai tingkatan (level). Little John mencatat setidaknya ada empat level komunikasi secara umum, yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi grup (kelompok), komunikasi organisatoris, dan komunikasi massa, sebagaimana dijelaskan berikut:

1. Komunikasi Intrapribadi

Menurut Blake dan Harodlsen (2005:28) komunikasi in- trapribadi adalah peristiwa komunikasi yang terjadi dalam diri pribadi seseorang. Bagaimana setiap orang mengomunikasikan dirinya atau berbicara pada dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan setiap orang dapat menjadi objek bagi dirinya sendiri melalui penggunaan simbol-simbol yang digunakan dalam proses komunikasi.

Melalui simbol-simbol ini apa yang dikatakan seseorang kepada orang lain dapat memiliki arti yang sama bagi dirinya sendiri sebagaimana berarti bagi orang lain. Blake dan Harodlsen menegaskan bahwa semua komunikasi sampai pada batas tertentu merupakan komunikasi intrapribadi, yaitu arti yang terdapat dalam setiap komunikasi selalu menjadi objek bagi penafsiran kita sendiri.

Bahkan Barnlund (1968:8) menyampaikan proses encoding-decoding yang terjadi ketika seseorang menanti di luar sebuah kamar operasi atau melakukan introspeksi tentang beberapa tragedi pribadi adalah suatu jenis komunikasi khusus yang mebutuhkan analisis tersendiri. Alasan-alasan ini patut untuk membatasi komunikasi intrapribadi sampai pada tingkatan manipulasi simbol-simbol dalam diri individu yang terjadi tanpa kehadiran orang lain.

2. Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi merupkan proses komunikasi yang terjadi di antara satu individu dengan individu lainnya. Komunikasi di level ini menempatkan interaksi tatap muka di antara dua individu tersebut dan dalam kondisi yang khusus (private settings).

Pada komunikasi grup, keterlibatan individu di dalamnya dilihat dari segi kuantitas lebih banyak dibandingkan level sebelumnya. Di level inilah interaksi interpersonal dilibatkan dan dapat diterapkan (Little John, 19965). Komunikasi antarpribadi (KAP) atau komunikasi diadik dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Komunikasi terjadi secara tatap muka (face to face) antara dua individu.

Menurut komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara individu-individu. Steward L. Tubbs dan Sylvia Moss (dalam Deddy Mulyana, 2005) mengatakan ciri-ciri komunikasi antarpribadi adalah peserta komunikası berada dalam jarak yang dekat, peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal.

3. Komunikasi Kelompok

Bagi Little John (1996) komunikasi organisatoris atau kelompok meliputi antara lain struktur fungsional dari sebuah organisasi, hubungan antarmanusia (sebagai anggota masyarakat), komunikasi dan proses pengorganisasian, dan kultur organisasi. Sementara komunikasi massa cakupannya lebih luas, lebih pada komunikasi publik yang melibatkan beragam organisatoris (kelompok masyarakat).

Deddy Mulyana (2005) menjelaskan arti kelompok sebagai sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.

Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, seminar dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.

Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, peserta komunikasi lebih dari dua orang, dan memi- liki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok. Dan B. Curtis, James J.Floyd, dan Jerril L. Winsor (2005, hlm. 149) menyatakan komunikasi kelompok terjadi ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya di bawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sa. saran bersama dan memengaruhi satu sama lain.

4. Komunikasi Massa

Gerbner (1967) mendefinisikan komunikasi massa sebagai “Mass communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow messages in industrial societies.” Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri.

Bagi Meletzke, Komunikasi massa adalah setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. Bagi Meletzke, Komunikasi massa adalah setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar.

Adapun Wright (1959:15) menjelaskan defenisi komu- nikasi massa dengan tik dari komunikasi massa itu sendiri. “This new form can be distinguish from older types by the following major characteristics; it is directed toward relatively large, heterogenous anonymous audience; messages are transmitted publicly, often times to reach most audience members simultaneously and are transient in character; the communicator tends to be or to operate within, a complex organization that great expense.” Bentuk baru komunikasi menurut Wright dapat dibedakan dari corak-corak yang lama karena memiliki raikan karakteristik-karakteris and may involve karakteristik utama:

    1. Diarahkan pada audiensi yang relatif besar, heterogen dan anonim.
    2. Pesan-pesan yang sering disebarkan secara umum, sering kali dijadwalkan untuk dapat mencapai kebanyakan khalayak secara serentak dan sifatnya sementara.
    3. Komunikator cenderung berada atau bergerak dalam organisasi yang kompleks yang mungkin membutuhkan biaya yang besar.

DeFleur dan Denis (1985) mendefinisikan komunikasi massa adalah suatu proses di mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna- makna yang diharapkan dapat memengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara.

Severin dan Tankard Jr dalam Communication Theories; Origins, Methods, And Uses In The Mass Media (2005) menjelaskan bahwa komunikasi massa adalah sebagian keterampilan, sebagian seni dan sebagian ilmu, meliputi teknik-teknik fundamental tertentu yang dapat dipelajari seperti memfokuskan kamera televisi, mengoperasikan tape recorder atau mencatat ketika berwawancara.

Komunikasi massa merupakan seni dalam pengertian bahwa ia meliputi tantangan-tantangan kreatif seperti menulis skrip untuk program televisi, mengembangkan tata letak yang estetis untuk iklan majalah atau menampilkan teras berita yang memikat bagi sebuah kisah berita. Ia adalah ilmu dalam pengertian bahwa ia meliputi prinsip-prinsip tertentu tentang bagaimana berlangsungnya komunikasi yang dapat dikembangkan dan digunakan untuk membuatu berbagai hal menjadi lebih baik. Joseph A. DeVito merumuskan definisi komunikasi massa yang pada intinya merupakan penjelasan tentang pengertian massa, serta tentang media yang digunakannya.

Ia mengemukakan definisinya dalam dua item, yakni: pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak yang meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang menonton televisi, tetapi ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan/atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya: televisi, radio siaran, surat kabar, majalah, dan film.

Demikianlah informasi mengenai topik yang berjudul Macam-Macam Model Komunikasi? Ini Jawabannya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam berbagi teman-teman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *