Kontekstualisasi Nilai-Nilai Tasawuf Di Era Modernisasi Oleh Ksatriawan Zaenuddin


KONTEKSTUALISASI
NILAI-NILAI TASAWUF DI ERA MODERNISASI
 DISUSUN OLEH: KSATRIAWAN ZAENUDDIN
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Segala Puji dan syukur bagi Allah
SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat menjalankan
aktivitas sehari-hari. Shalawat serta salam selalu terhatur kepada Rasulullah
Muhammad SAW. yang mengeluarkan kita dari yang tak berkehidupan menuju kehidupan
kebahagiaan dan kedamaian.
Berangkat dari karunia dan hidayah
Allah SWT, penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah ini, yang berjudul Kontekstualisasi Nilai-Nilai Tasawuf Diera
Modernisasi,
sebagai persyaratan mengikuti Intermediate Training (LK II)
yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Pusat
Utara pada tanggal 19-30 Juli 2016 di
Graha Insan Cita.
Makalah ini tak dapat selesai tanpa
bantuan yang diberikan kepada penulis, maka penulis mengucapkan terima kasih
kepada HMI Komisariat Ahmad Dahlan dan HMI Cabang Gowa Raya, terkhusus kepada
kakanda Arif Hamzah, Upi, Muhammad Ridwan dan kakanda Akbar yang telah
memberikan dorongan dan motivasi yang sangat bermanfaat. Penulis juga berterima
kasih kepada kakanda Alumni (KAHMI) sekaligus sebagai orang tua penulis yang
banyak memberikan petunjuk dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam
pembuatan makalah ini tidaklah mudah dan masih terdapat banyak kekurangan, maka
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sebagai
bahan penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini
dapat bermanfaat menambah wawasan dan membuka cakrawala pengetahuan dalam
menjalankan mandat mulia dari Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Amin.
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
                                                                       Makassar,
13 Juli 2016
                                                                   
                                                                            Hormat Kami
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………         i
DAFTAR
ISI
……………………………………………………………………………        ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.    Latar
Belakang…………………………………………….         1         
B.     Rumusan
Masalah…………………………………………         3
C.     Tujuan
Penulisan………………………………………….          4
D.    Manfaat
Penulisan………………………………………             4
BAB II:
PEMBAHASAN
A.    Tasawuf……………………………………………………        5
1.      Definisi
Tasawuf………………………………………          6
2.      Hubungan
Tasawuf Dengan Islam…………………….           8
B.     Modernisasi………………………………………………..        9
1.      Definisi
Modernisasi…………………………………..         10
2.      Pertumbuhan
dan Perkembangan Modernisasi………..           11
3.      Problematika
Manusia Modern ……………………….         14
C.     Tasawuf
Jawaban Era Modernisasi atas
 Keterkungkungan Manusia…………………………….         18
1.      Nilai-Nilai
Tasawuf: Jawaban Alienasi……………….             19
2.      Tasawuf
Dan Indonesia……………………………….           23
3.      Hubungan
HMI dan Tasawuf…………………………           24
BAB
III: PENUTUP
A.    Kesimpulan…………………………………………………         27
B.     Saran……………………………………………………….        28
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………..                       29
  


BAB
I
PENDAHULUAN
    A.   
Latar
Belakang
Diera
modern saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberi
berbagai kemudahan bagi manusia dalam bekerja dan mengakses informasi tanpa
batas. Namun, perkembangan tersebut membuat manusia berpikir,  dan bertindak mekanistis. Begitu pula dengan
budaya, dimana budaya asing sangat mudah masuk dan berakulturasi dengan
budaya-budaya pada suatu negara atau wilayah tertentu yang notabenenya
merupakan budaya yang bersifat materialistis dan hedonis yang sangat rentan
mempengaruhi manusia. Tak pelak berhenti disitu saja, perkembangan tersebut
memudahkan masuknya berbagai pahaman atau ideologi dalam suatu negara dan ikut
mempengaruhi kepribadian manusia.
Dampak
dari modernisasi adalah terjadinya pergolakan ideologi yang sulit dibendung seperti
kapitalisme, imperialisme, komunisme dan kerabat dari
materialisme.Ideologi-ideologi materialisme salah satunya, Kapitalisme yang
saat ini berkembang besar membuat manusia terhegemoni dan terkooptasi berbagai
hirup pikup dunia materialisme yang sifatnya hedonis, hingga mengalami kelupaan
dan teralienasi menjadi manusia yang dibentuk dan mengikuti arus perubahan
sosial yang dikendalikan oleh ideologi Kapitalisme.
Secara
histroris, Kapitalisme memulai ekspansi besar-besaran, disaat arus benturan
ideologi yang diakhiri oleh kekalahan Komunisme (Uni Soviet) dan dimenangkan
oleh Kapitalisme yaitu Amerika Serikat, sehingga Kapitalisme semakin agresif
dalam ekspansi pengaruh untuk menguasai berbagai negara khususnya Indonesia.
Salah satu cara
kulturalisasi Kapitalisme di Indonesia yaitu memberikan dokrin bagi
generasi-generasi muda sebagai efektifitas dan efisiensi yang bertujuan
melahirkan negara yang konsumtif dan menenggelamkan konsep-konsep humanisasi ke
dehumanisasi individualitis dimana manusia teralienasi dengan dirinya dan
manusia yang lain.
Ketika
manusia teralienasi dengan dirinya dan manusia yang lain, maka kesadarana
manusia dengan alam semakin berkurang dan bahkan sampai tidak ada. Hal ini
terjadi karena manusia ikut dalam sistem Kapitalisme yang mengekploitasi alam
dan berdampak dari ketidakseimbangan seperti pemanasan global, polusi, tsunami,
peperangan dan berbagai fenomena alam.
Demikianpula
dalam masalah kepercayan atau keyakinan dengan tuhan, karena manusia lebih
mengutamakan hal-hal dunia yang sifatnya materialistis, individualistis dan
mekanistis, sehingga kepercayaan dan keyakinan dengan tuhan semakin berkurang
dan bahkan sampai menjadi atheis. Dengan demikian, problematika manusia semakin
kompleks, mulai dari manusia dengan dirinya, manusia dengan manusia yang lain,
manusia dengan alam dan manusia dengan tuhan diera modernisasi.
Urgensi
modernisasi adalah perlunya membendung ideologi yang jauh dari fitrah manusia
dan falsafah Negara Indonesia seperti yang dipaparkan diatas yakni Kapitalisme.
Menurut Max Weber dalam buku Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, bahwa cara
membendung kapitalisme adalah dengan membangkitkan etika manusia. Etika manusia
inilah yang mengembalikan ke fitrahnya sebagai manusia yang suci. Sebagaimana sejarah
rekonstruksi etika manusia yang sangat fenomenal, mengeluarkan bangsa arab dari
kebodohan ke bangsa yang berperadaban dengan ajaran Islam yang dibawakan oleh
Rasulullah Muhammad SAW.
Islam
dengan kitabnya, Al-Qur’an telah menjawab segala problematika manusia masa
lalu, masa kini dan masa yang akan datang hingga dunia berakhir. Terkhusus ayat
Al-Qur’an mengenai rekonstruksi etika manusia, misalnya:
Sesungguhnya kami telah
mensucikan mereka dengan menganugerahkan kepada mereka akhlak yang tinggi yaitu
selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
(QS.
Sad: 46)
Tidak ada kebaikan dari
banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh
(manusia) memberisedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamian
diantara manusia.Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan
Allah, maka kelak kami beri pahala yang besar.
(QS.
An-Nisa:114)
Dan hamba-hamba yang
baik Tuhan Yang Maha Penyayang itu (Ialah) orang-orang yang berjalan diatas
bumi dengan rendah hati (tidak sombong) dan apabila
orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan.
(QS. Al-Furqon: 63)
Hai orang-orang yang
beriman, belanjakanlah (dijalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah kami
berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual
beli dan tidak ada lagi sya’fat…..
(Al-Baqarah:
254).
Allah meluaskan rezeki
dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.Mereka bergembira dengan
kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan
akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit.
(QS.
Ar Rad: 26)
Itulah
beberapa ayat Al-Qur’an yang membahas pembentukan etika manusia, yang tentu
saja harus dilandasi dengan kesadaran diri. Kajian Islam yang membahas dalam membangkitkan
kesadaran diri manusia dikenal dengan Tasawuf, yang berorientasi kepada
penyucian diri dari dalam diri sendiri atau mengedepankan aspek spiritualnya
yang tentu saja dapat membangkitkan kesadaran manusia apalagi di era
modernisasi.
Oleh
karena itu, Tasawuf perlu dikontekstualisasikan terhadap nilai-nilai yang
dibawakannya sebagai jawaban atas tantangan zaman menjadi manusia yang
beretika, manusia Insan kamil. Manusia yang sadar akan dirinya, kondisi sosial,
alam, dan manusia dapat menyimbangkan urusan dunia dan Ilahi yaitu hablum
minannas dan hablum minallah dalam peran sebagai hamba dan sebagai khalifah
yang membawa pembaharu dan pencipta masyarakat yang berperadabadan dalam arus
modernisasi saat ini.
   B.    
Rumusan
Masalah
Urgensi rumusan masalah yang dapat kita garis bawahi
dalam latar belakang adalah sebagai berikut….
“Bagaimana
Kontesktualisasi Nilai-Nilai Tasawuf Diera Modernisasi sebagaijawaban atas
tantangan zaman”?
   C.   
Tujuan
Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah yang merujuk dari
rumusan masalah adalah sebagai berikut.
a.       Untuk
mengetahui bahwa tasawuf dapat membangkitkan kesadaran diri manusia.
b.      Untuk
mengetahui bahwa tasawuf dapat menjawab Menjawab Tantangan Zaman Diera
Modernisasi.
   D.   
Manfaat
Penulisan
Memberitahu bersama-sama bahwa Islam adalah
agama rahmatan lil alamin jawaban atas diberbagai zaman.Islam adalah modern,
dan sesuai dengan ilmu pengetahuan, Islam adalah agama yang melahirkan manusia
insan kamil yang sadar sebagai hamba dan khalifah sebagai jawaban diera
modernisasi membendung Kapitalisme.
BAB II
PEMBAHASAN
    A.   
Tasawuf
Pandangan
para ulama tentang Tasawuf (Sufi) sangat diminati, sebagai jalan atau latihan
untuk mengembangkan kesucian batin atau hati. Menjaga kehormatan diri dengan
etika yang tinggi agar Tuhan menghendaki adanya kesatuan wujud dalam keabadian,
sehingga para ulama memilih tasawuf sebagai alternatif pilihan  karena keterlibatan seseorang dalam tasawuf,
tidak lagi berpikir secara mendasar dan mendalam, namun lebih diutamakan,
pembersihan diri dengan senantiasa berzikir mengingat Allah SWT.[1]
Sufi harus tahu tentang diri dalam hubungan yang mutlak dan yang terbatas serta
tidak merepsentasikan kesadaran akan derita batin yang dirasakan orang lain
sebagai kebutuhan alamiahnya dan kesadaran batin akan kebutuhan spiritual.[2]
Menurut
Ibnu Kaldun dalam Mukkadimahnya bahwa tasawuf merupakan bagian dari ilmu-ilmu
syariat yang muncul dikemudian hari dalam agama. Pada dasarnya, pendekatan para
ulama salafnya seperti para sahabat dan para tabi’in yang datang sesudahnya
merupakan pendekatan yang benar dan berhak mendapat petunjuk, yang bertumpu
pada kesungguhan dalam beribadah dan memfokuskan pengabdian kepada Allah,
menghindari kemegahan dan gemerlap dunia dengan segalah perhiasannya, berzuhud
dari kenikmatan harta dan ketinggian jabatan yang banyak diharapkan masyarakat
pada umumnya, dan mengasingkan diri dari keramaian dunia dan berkhalwat untuk
memusatkan diri dalam ibadah. Aktivitas semacam ini merupakan fenomena umum
dikalangan para sahabat dan ulama salaf.[3]
Keabsahan
tasawuf dapat mengisyaratkan pengambilan sikap penghakiman (judgment) dengan
implikasi serius, karena menyangkut pengalaman keruhanian seseorang. Pengalaman
mistisme kaum Sufi (tasawuf), mengarah ke dalam dan dengan diri sendirinya
bersifat pribadi. Oleh karena itu pengalaman mistis hampir mustahil
dikomunikasikan kepada orang lain, dan selamanya akan lebih merupakan milik
pribadi si empunya sendiri.[4]
   1.     
Definisi
Tasawuf
Terdapat beberapa
definisi yang dikemukakan oleh para ahli baik kalangan sufi (pengamal ajaran
tasawuf) maupun yang bukan, terhadap kata “tasawuf”. Namun, tidak mungkin
mencantumkan semua definisi, karena sebagian memiliki kesamaan di dalam mendefinisikan
tasawuf yang sangat sulit dan diperlukan kehati-hatian.Maka dari itu, baiknya
menelusuri asal-usul penggunaan kata tasawuf sebelum mendefinisikannya.[5]
Tasawuf berasal dari
kata “shafa”, artinya suci, bersih,
atau murni. Hal itu karena segi niat maupun tujuan tindakan dan ibadah kaum
sufi. Ada yang berasal dari shaff, artinya
baris, karena berada dibarisan pertama akibat besarnya keinginan mereka dan
Dia. Kecenderungan hati mereka terhadap-Nya. Oleh sebab itu, bagi mereka
kegiatan ibadah yang dilakukan tidak mengenal waktu, kapan pun dan dimana pun. Sisa
hidup dimanfaatkan untuk selalu mengingat Allah.[6]
Sedangkan menurut Harun
Nasution bahwa tasawuf berasal dari Ahl
ash-shuffah,
artinya mereka yang pernah ikut pindah dengan Nabi dari Mekah
ke Madinah.Namun, karena mereka kehilangan harta dan benda, mereka berada dalam
keadaan miskin serta tidak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di Masjid Nabi dan
tidur di atas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana yang
digunakan mereka disebut sebagai shuffah.
Meskipun dalam keadaan miskin, ash-shuffah
berhati baik dan mulia. Sifat utamanya adalah tidak mementingkan keduniaan
dan hidup miskin, tetapi berhati baik dan mulia. Itulah sifat-sifat kaum sufi.[7]
Selanjutnya, Harun
Nasution menambahkan bahwa kata Shuf berarti
kain wol kasar, sebagai salah satu identitas sufi dalam meniti hidupnya. Kaum
sufi tidak mengunakan kain wol halus dan sutra karena identik dengan
orang-orang yang kaya dan hidup mewah. Dengan demikian, dirinya akan terjaga
dan selalu berhati suci serta mulia.[8] Sekalipun
demikian, tidak semua orang menggunakan wol kasar disebut sufi.[9]
Menurut Jalaluddin
Rahmat, apabila terdapat perbedaan dalam definisi tasawuf, hal tersebut tidak
berarti adanya kekacauan dan kontradiksi. Sufisme mempunyai konotasi berlainan,
ambivalen, karena pada hakikatnya tasawuf adalah pengalaman individual, sebab
dari sosio-kultur individu hidup dan tinggal yang memunculkan istilah-istilah,
yang kemudian membawa konsekuensi bermacam-macam. Dimana makna sufisme,
bergantung dari sudut pandang yang digunakan. Secara teknis, kita dapat
mengatakan bahwa makna sufisme adalah fungsi ideologi orang yang memberikan
makna kepada sufisme.[10]
Kemudian menurut
beberapa ahli, definisi tasawuf secara terminologi adalah sebagai berikut:
a.       Ahmad
Zarruq dari Maroko, mendefinisikan tasawuf sebagai pengetahuan yang dapat
menata dan meluruskan hati serta membuatnya istimewa bagi Allah, mempergunakan
pengetahuan tentang Islam, secara khusus tentang hukum yang kemudian mengaitkan
pengetahuan tersebut guna meningkatkan kualitas perbuatan, serta memelihara
diri dalam batasan-batasan hukum Islam dengan harapan muncul kearifan dalam
dirinya.[11]
b.      Imam
Al-Ghazali dalam ihya ‘Ulum ad-Din menyebutkan
bahwa, Tasawuf adalah budi pekerti. Barang siapa yang memberikan bekal budi
pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal bagimu atas dirimu dalam tasawuf.
Hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena mereka melakukan
suluk dengan petunjuk Islam, orang-orang zuhud, karena mereka telah melakukan suluk
dengan petunjuk imannya.[12]
c.       Al-Junaidi
Al-Bagdadi, tokoh sufi modern, mengatakan bahwa tasawuf ialah membersihkan hati
dari sifat yang menyamai binatang dan melepaskan akhlak yang fitri, menekan
sifat basyariah (kemanusiaan), menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi
kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama
atas dasar keabadiannya, memberi nasihat kepada umat, benar-benar menepati
janji terhadap Allah SWT dan mengikut syariat Rasulullah SAW.[13]
d.      K.H.
Achmad Siddiq atau Kyai Achmad berpendapat bahwa tasawuf adalah pengetahuan tentang
semua bentuk tingkah laku jiwa manusia, baik yang terpuji maupun tercela;
kemudian bagaimana membersihkannya dari yang tercela itu dan menghiasinya
dengan yang terpuji, bagaimana menempuh jalan kepada Allah dan berlari
secepatnya menuju kepada Allah.[14]
Berdasarkan beberapa
definisi tasawuf secara etimologi dan terminologi, penulis menyimpulkan bahwa
definisi tasawuf adalah seseorang yang menyucikan diri dengan mengedepankan
aspek esoteris ke eksoteris (mengamalkan) sebagai upaya mendapatkan pertalian
dengan Allah SWT. Tasawuf sebagai penyucian rohani untuk pembersihan jasmani
tanpa ada rasa khawatir akan segala masalah kekurangan yang dihadapinya.
   2.     
HubunganTasawuf
Dengan Islam
Tasawuf merupakan
bagian dari kajian Islam yang tak terpisahkan dari kajian Islam lainnya,
seperti halnya pada kajian tauhid dan fikih. Jika aksentuasi kajian tauhid
terletak pada soal akidah, pengesaan Allah SWT dan berbagai hal pokok keagamaan
dan kajian fikih menitikberatkan pada soal ijtihadi
yang bersifat haliyah-amaliyah-furu’iyah,
maka tasawuf kajiannya terletak pada soal-soal batini yang menyangkut hal-hal
dzaugi, ruhani,
dan sangat esoteris. Hal-hal inilah yang kemudian membawa
pada diskursus bahwa inti ajaran tasawuf adalah untuk mencapai kehidupan batini dan ruhani (pertalian langsung dengan Allah).[15] Sehingga
tasawuf harus tetap berjalan dengan dua aspeknya yang mendahuluinya, yaitu
berlandaskan akidah (tauhid) dan
syariat (fikih), begitu juga
sebaliknya.[16]
Dengan demikian,
seseorang akan disebut Muslim sejati ketika totalitas dalam ajaran Islam yakni
sebagai Muwahhid (menjalankan tauhid),  faqih (menjalankan ketentuan fikih) dan sufis (berperilaku sufi).
Dalam konteks kajian Islam, tasawuf dapat dilihat dari sudut pandang kajian
keilmuan Islam lainnya, atau ilmu-ilmu lainnya yang bersinggungan langsung atau
tidak langsung terhadap kajian tasawuf tersebut.
   B.    
Modernisasi
Zaman
yang terus berdialektika dengan menampilkan suatu pembaharuan dalam masyarakat,
menjadi masyarakat modern yang sering digolongkan sebagai the post industrial society. Suatu masyarakat yang telah mencapai
tingkat kemakmuran hidup material yang sedemikian rupa, dengan perangkat
teknologi yang serba mekanik dan otomat, sebagai suatu simbol masyarakat
modern.[17]
Modernisasi
yang akhir-akhir ini banyak menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat. Lebih-lebih
menimbulkan kesan seolah-olah terdapat golongan yang menghalangi modernisasi,
seakan-akan itu adalah umat Islam. Hal ini terjadi, karena semakin jelas dan
gamblang banyak fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia diera
modern. Dengan demikian, perlunya menempatkan atau mengetahui definisi modernisasi
yang dinamis dan konstruktif dalam menjawab berbagai tuduhan bagi umat Islam.[18]
   1.     
Definisi
Modernisasi
Modernisasi, secara etimologi
berasal dari kata “modern” yang dari bahasa latin “modo” yang artinya just now
atau yang kini. Sedangkan sasi berarti
proses.[19] Jadi
Modernisasi secara sederhana adalah proses menuju masa kini. Secara
terminology, modernisasi adalah proses untuk merombak cara-cara kehidupan lama
untuk menuju bentuk atau model kehidupan yang baru. Sedangkan definisi modernisasi
menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut..
a.       Menurut
Nurcholish Madjid, bahwa modernisasi adalah rasionalisasi bukan westernisasi,
artinya proses perombakan pola berpikir dan tata kerja lama yang tidak akliah
(tidak rasional), dan menggantinya dengan pola berpikir dan tata kerja baru
yang akliah untuk memperoleh daya guna dan efisiensi yang maksimal, ilmiah dan
sesuai dengan hukum alam.[20]
b.      Menurut
Poggi bahwa modernisasi membawa serangkaian keuntungan bagi umat manusia,
khususnya fakta bahwa mereka mampu mengekspresikan berbagai potensi yang tidak
terekspresi atau di sembunyikan dan tindas dalam masyarakat pramodern.[21]
c.       Menurut
Antoni Giddens, sebagai suatu yang memasuki inti diri menjadi proyek relekfisf. Jadi, diri menjadi
sesuatu yang direfleksikan, diubah, bahkan dibentuk. Tidak hanya bahwa individu
bertanggung jawab pada penciptaan dan pemeliharaan diri, namun tanggung jawab
ini terus berlangsung dan meliputi semuanya. Diri adalah produk eksplorasi diri
dan perkembangan relasi sosial yang intim.[22]
d.      Dr.
Afan Gaffar menyatakan bahwa modernisasi adalah proses yang revolusioner yang
dilaksanakan secara sistematik yang menyangkut segala aspek kehidupan manusia.
Didalam proses tersebut banyak sekali konsekuensi yang harus dihadapi bahkan
dibayar dengan mahal sekali.[23]
e.       Menurut
Eugene Staley bahwa Modernisasi berarti perubahan hubungan dalam masyarakat.
Hal itu merupakan suatu keharusan bagi perubahan-perubahan sosial mendalam
sebagai bagian dari modernisasi ekonomi. Namun, masalah demokratisnya ialah
bagaimana mendapatkan sarana untuk merangsang dan mengarahkan
perubahan-perubahan itu tanpa mengorbankan martabat manusia, hal yang
menjadikan pembangunan menjadi sesuatu yang lebih baik.[24]
Berdasarkan beberapa
definisi modernisasi diatas, penulis menyimpulkan.bahwa modernisasi adalah
rasionalisasi dan revolusioner sebagai efisiensi dan efektivitas dalam
memajukan kehidupan manusia yang humanitas dan tetap berelasi dengan hal-hal
kepercayaan.
   2.     
Pertumbuhan
dan Perkembangan Modernisasi
Menurut Sayyidina
Suryohadiprojo, mengenai asal usul lahirrnya modernisasi, berumula pada abad
ke-16 sebagai lahirnya zaman modern yang dipelopori oleh bangsa Barat yang
dinamakan Renaissanse atau kelahiran kembali hasil-hasil budaya Yunani dan Romawi
yang telah dikembangkan Yunani kuno seperti Aristoteles, Plato dll.
Pengungkapan kembali tersebut, terjadinya persentuhan antara Eropa Barat dengan
budaya Islam yang pada abad pertengahan justru sedang berkembang dengan megah
dan memasuki Eropa Barat melalui Spanyol. Humanisme dan Renaissanse sebagai
sumber utama terbentuknya peradaban Barat modern.[25]
Persentuhan dengan
Islam, dan pengungkapan pikiran Yunani dan Romawi, membuka pikiran Eropa Barat
untuk memfungsikan ratio, yang pada saat itu gereja katolik yang berkuasa
dieropa, menentang pemikiran dan melarang penelitian dalam pengembangan ilmu
pengetahuan. Pelarangan  ini, menimbulkan
banyak hukum yang dilakukan oleh gereja katolik seperti Nicolaus Copernicus,
Hipatia, Desidarius Erasmus, dan lain-lain. Akan tetapi, gereja katolik tak
mampu membendung perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa Barat hingga
perkembangan tersebut memunculkan bidang ilmu pengetahuan seperti matematika,
fisika, astronomi, kimia dan lain-lain.[26]
Pada abad ke-18, Eropa
telah menjadi sentrum perkembangan ilmu pengetahuan dunia dan menggantikan
peradaban Islam pada abad ke-16 sebagai masa surutnya. Perkembangan ilmu
pengetahuan dieropa membawa hasil yang sangat brilian yang menemukan bahwa bumi
itu bulat, dapat menjelajahi dunia, menemukan sumber rempah-rempah, dan pulau
Amerika yang kaya. Apalagi ketika ilmu pengetahuan mendorong berkembangnya
teknologi semakin maju yang mengubah dari produksi rumah ke produksi pabrik,
dan dari perorangan ke produksi massal ketika terjadinya Revolusi Industry di
Eropa Barat.[27]
Revolusi Industri Barat
diawali oleh Perancis (1789) dan Inggris.[28] Revolusi
yang terjadi pada abad ke-16 dan ke-17 dari 
serangkaian perang melawan monarki, dimana Inggris menang atas monarki
dengan memaksa menerima pembatasan konstitusional  dari kekuasaannya yang pada akhirnya menjadi
landasan bagi demokrasi parlementer. Sedangkan untuk Perancis, mengalami
kekalahan atas monarki hingga beberapa tahun kemudian terjadilah Revolusi Perancis.[29] Industrialisasi
sebagai proses perkembangan teknologi oleh penggunaan ilmu pengetahuan terapan,
ditandai dengan ekspansi produksi besar-besaran dengan menggunakan tenaga mesin
untuk tujuan pasaran yang luas bagi barang produsen dan konsumen.[30]
Setelah Revolusi
Industri di Inggris dan Perancis mengubah kehidupan di Eropa, Amerika Utara,
dan beberapa belahan bumi.[31] Sebelumnya
hanya berbasis pertanian sekitar tahun 8000 SM dan telah terus menerus
mendominasi bumi sampai waktu pada tahun 1650-1750 M. Setelah itu, beralihlah
ke zaman industrialisasi yang membangun pabrik baja, perusahaan otomobil,
pabrik tekstil, rel kereta api, dan perusahaan pemroses makanan. Industrialisasi
semakin memuncak selama dekade pasca Perang Dunia II, mendorong terjadinya
berbagai konflik atas negara praindustrial atau berkembang dengan negara-negara
industrial, baik kapitalis atau sosialis. Konflik tersebut, membawa sebuah
dokrin gagasan hak individu dari Rosseauaian sebuah kontrak sosial,
sekularisme, pemilihan pemimpin atas kehendak rakyat bukan hak ilahiah. Bagi
setiap orang yang mengalami banyak perubahan, tampak terlihat semrawut. Akan
tetapi.sebenarnya saling berkaitan menuju perkembangan yang disebut modernitas.[32]
Di Amerika Serikat
memicu terjadinya Perang Saudara demi kepentingan industri perdagangan Utara.
Beberapa tahun kemudian, revolusi Meiji Pecah di Jepang dan kaum modernis
menang melawan tradisional.[33] Menurut
pendapat Robert N. Bellah, bahwa modernisasi yang terjadi di Jepang karena
agama Tokugawa.[34]
Pemenuhan sumber bahan
mentah dan mencari pengaruh atas setiap Negara yakni Kapitalisme dan Komunisme,
maka terbentuklah Blok Barat dan Blok Timur dimana Blok Barat promotornya
adalah Amerika Serikat (Kapitalisme) sedangkan Blok Timur adalah Uni Soviet
(Komunisme).
Peperangan diakhiri
dengan perjanjian perdamaian, namun sangat mencolok bahwa Uni Soviet mengalami
kekalahan oleh Amerika Serikat atau kemenangan Kapitalisme dalam hegemoni
dunia. Akan tetapi, terdapat hambatan karena bangsa yang tadinya terjajah, kini
bangkit seperti Jepang dan Jerman yang melejit menjadi negara modern, dimana menurut
Alexander Gerschenkron bahwa Jepang dan Jerman melakukan segala hal yang
berbeda dengan Inggris dan Amerika Serikat, yang mana Jepang dan Jerman lebih
aktif dalam promosi pembangunan. Jepang hadir sebagai Negara yang menentang
penjajah barat, namun lahir sebagai Negara yang ikut dalam sistem penjajah tersebut
yaitu Kapitalisme industri dan teknologi yang dapat menandingi dan mengalahkan
Amerika Serikat,  dan masih banyak lagi
Negara-negara yang dapat bersaing dengan Amerika, Eropa seperti Cina. Begitu
juga dengan runtuhnya Uni Soveit menjadi Rusia yang notabene  sebagai negara komunis ikut dalam sistem
liberal yaitu perdagangan dunia.
Dengan demikian,
pengaruh-pengaruh ideologi Kapitalisme, Liberalisme dan Imperialisme modern
lebih menancapkan akarnya tidak hanya pada negara pendiri Kapitalisme, melainkan
telah mewabah ke negara-negara yang menentang Kapitalisme itu sendiri hingga
sampai sekarang ini, Kapitalisme tidak hanya diadopsi suatu negara melainkan
telah diadopsi oleh manusia walaupun secara tidak langsung mengakuinya tapi
perwatakan demikian adanya.
   3.     
Problematika
Manusia Modern
Situasi manusia di
zaman modern justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri. Di
balik kemajuan ilmu dan teknologi, dunia hancurkan martabat manusia. Umat
manusia berhasil mengorganisasikan ekonomi, struktur politik, pembangunan
peradaban maju sejak potensi rasionalnya. Kebudayaan Barat pada zaman Renaissanse,
berakar dari mitologi Yunani yang terkungkung, seolah-olah Tuhan membelenggu
manusia. Sehingga renaissanse hadir membebaskan manusia dan sebagai revolusi
paham keagamaan, bahwa manusia pada dasarnya merdeka dengan dasar revolusi Ilmu
pengetahuan. Namun, membawa masalah karena menyebabkan agnotisisme terhadap agama
dan menimbulkan sekularisme.[35]
Filsafat barat yang
menekankan pendapat, bahwa hanya individulah yang sangat dibutuhkan bukan orang
lain karena itu, setiap orang harus dibebaskan untuk mencipta dan berusaha
menurut individunya. Sistem pemikiran sosial-politik dan kehidupan ekonomi, melahirkan
ideologi ekonomi kapitalisme yang mengejar keuntungan besar pada alat-alat
produksinya yang dilengkapi dengan kelembagaan dan hukum kontrak sebagai ikatan
kuat kapitalisme. Semakin lama, pertumbuhan sistem kapitalisme menimbulkan
dampak ekonomi dan sosial yang luas, khususnya kapitalisme industri.[36]
Industri meluaskan kaum
pekerja di semua negara-negara Industri yang perkembangannya merusak
lembaga-lembaga sosial didaerah pedesaan, tempat pekerja berasal. Mulailah
jejak besar kapitalisme.[37]
Dalam dua dekade
setelah Perang Dunia ke-2, kapitalisme, disamping memperlihatkan kekuasaan yang
tetap, dinamis dan mekanisasi kerja manusia. Alat-alat produksi baru yang
dihasilkan oleh teknologi modern dengan proses mekanisasi, otomisasi dan
standarisasinya, ternyata menyebabkan manusia cenderung menjadi elemen yang
mati atau teralienasi dari proses produksi. Teknologi modern sesungguhnya
bertujuan pembebasan manusia ternyata menjadi alat perbudakan baru.[38]
Pemenuhan produksi atas
tenaga buruh, dimana menurut Marx yang pertama,
pekerja buruh atau tenaga buruh teralienasi dari aktivitas produksinya dan
tidak memainkan peran sedikit pun untuk menentukan apa yang harus dilakukan
atau bagaimana melakukan. Kedua,
pekerja teralienasi dari produk hasil aktivitas mereka karena tidak memiliki kontrol
terhadap yang dibuat dan akan jadi apa barang-barang itu. Ketiga, pekerja teralienasi dari manusia yang lain karena dengan
kompetisi dan penyeragamaan telah menjauhkan mereka dari kerja sama. Keempat, mereka teralienasi dari potensi
diri beranekaragam yang tersimpan dalam kediriannya sebagai manusia.[39]
Hubungan yang mengakibatkan
menurunnya karekteristik individu, kelemahan secara fisik, kebingungan mental,
kehilangan arah, terisolasi, dan pembusukan daya kekuatan sebagai makhluk sosial.
Pemisahan buruh dengan hasil kerjanya mengakibatkan keterikatan dengan orang
lain (kapitalis), menjadi hidup dan mati ditentukan oleh orang lain akhirnya
kehilangan kontrol dan pengetahuan mengenai dunia luar.[40]
Perkembangan teknologi
membuat manusia menjadi Free enterprises sebagai suatu kebebasan anggota
masyarakat dalam lingkungannya yang meletakkan dasar ideology kapitalisme
sebagai kekuatan transformasi struktur sosial-budaya, politik dan ekonomi pada
seluruh dunia. Gejala yang disebut Galtung sebagai dominance system dalam
konteks internasional, disebut imperialisme. Dominasi hubungan enterprises dan
teknologi sebagai penyuburan kapitalisme, dan sekularisme.[41]
Revolusi di Perancis yang
dipelopori dari gerakan sosial dengan semboyannya Liberte, Egalite, Fraternita atau Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan.
Ternyata permulaan liberalisme atau bahasa Perancis dikatakan Laissez faire, laissez passer.yang juga
mengacu kepada individualisme dan kapitalisme dari kebebasan tanpa batasan.[42]
Menurut Nurcholis
Madjid, bahwa Sekularisme sebagai dampak dari rasionalisme merupakan puncak
lahirnya Ateisme sebagai sumber imoralitas. Cabang dari sekularisme adalah
liberalisme sebagai kebebasan seperti di Perancis, Inggris dan Amerika yang membuat
kesewenang-wenangan. Liberalisme mengakibatkan individualisme, dan individualism
mengakibatkan kapitalisme dari prinsip kemerdekaan dinodai yang hanya berupa simbol
belaka.[43]
Individualistik Amerika
Serikat yang menganggap sebagai manusia tipe Ideal adalah berdiri sekelompok
individu yang teratomisasi secara total yang berintegrasi satu sama lain di
luar perhitungan rasional tentang swa- kepentingan dan tidak memiliki ikatan
atau tanggung jawab terhadap manusia-manusia lain kecuali orang yang berada di
luar perhitungan ini. Walaupun eksis sebagai milyuner yang kesepian tanpa
pasangan atau anak-anak, atau orang tua yang tinggal sendirian pada masa
pensiun atau tunawisma tempat penampungan.[44]
Begitupula dengan negara-negara
yang berpaham komunisme seperti Rusia, Cina dan lain-lain, Komunisme adalah
bentuk lebih tinggi daripada sekularisme dan menjadi atheis sempurna.[45]Sebagaimana
menurut Huston Smith, pengingkaran adanya alam gaib, khususnya Tuhan, adalah
permulaan meluncurnya seseorang atau masyarakat ke amoralisme atau immoralisme.
Sebab, kembali kepada Bung Hatta, hanya kepercayaan kepada Tuhan-lah yang akan
memberi kedalaman rasa tanggung jawab dan moralitas tindak-tanduk manusia di
dunia ini.[46]
Paham prinsip egalitarian yang hanya simbol belaka dan dinodai dengan supremasi
multak penguasa atas pihak yang dikuasai. Maka diktator proletar pada
hakikatnya ialah diktator pemimpin dan penguasa-penguasa.[47]
Kapitalisme dan
komunisme itu tidak benar, karena banyak pergeseran di dalam keduanya. Sebab,
manusia tidak mungkin bisa bertahan sepenuhnya dalam suatu prinsip dan dalam
ajaran yang kebenarannya tidak mutlak. Sebaliknya kapitalisme semakin
menunjukkan gejala sosialistis, sedangkan komunis semakin menjadi liberalistis.[48]
Dengan demikian,
Industrialisasi sebagai modernisasi yang terjadi di negara di beberapa negara
yang dipaparkan diatas melahirkan dan mencerminkan individualistik berefek
terhadap interaksi dengan lingkungan antara sesama manusia yang mengalami alienasi
dengan manusia yang lain. Begitu pula ketika industrialisasi yang perlu
ditunjang dengan bahan mentah sebagaimana paparan diatas hingga penggunaan akan
sumber daya alam terlampau batas sebagai pemenuhan Industrialisasi. Berdampak
pada keseimbangan alam yang tak lagi terharmonisasi, sebagai upaya hanya untuk
mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam doktrinal kapitalisme. Kebebasan
yang terjadi pada individu dan lebih mengedepankan rasio membuat manusia lebih
cenderung keberpihakannya, hingga timbul sekularisme sebagai pemisahan dan tak
mempergunakan masalah-masalah keagamaan atau tak mempergunakan lagi agama
sebagai pembanding dalam berpikir dan bertindak yang berefek terhadap alienasi
manusia dengan dirinya dan juga kepada masalah kepercayaan.
   C.   
Tasawuf
Jawaban Era Modernisasi atas Keterkungkungan Manusia
Para
pelaku tasawuf atau sufi, selama ini diidentikkan dengan kehidupan statis,
tradisional, hidup menyendiri, cuek dengan hingar-bingarnya dunia, cuek dengan
perubahan, dan berbagai labelitas kejumudan lainnya, anggapan tersebut kiranya
perlu ditinjau kembali dengan melihat aspek ajaran sufisme walaupun secara
normatif ideologis tampak statis, tetapi di balik kestatisannya telah menyimpan
kedinamisan yang luar biasa sehingga dalam sejarahnya yang panjang diketahui
sedikit gerakan sufisme melalui tarekat. Misalnya penjelmaan sebagai suatu
gerakan kekuatan yang melawan dan memotivasi sebagian umat berjuang melawan dan
mengusir penjajah, tetapi juga memobilisasi massa dalam skala besar demi
tegaknya supremasi hukum, sosial, kultur, politik, bahkan juga ekonomi.[49]
Gerakan
kaum sufi yang tergabung dalam kelompok tarekat, banyak membantu terwujudnya
cita-cita pembebasan dari kungkungan imperialisme, liberalisme, kapitalisme,
komunisme dan sekularisme. Sebagaimana menurut Imam Sutrisno, bahwa kaum sufi
yang merupakan elite dan kaum terdepan, roda penggerak utama Islam pada
masanya. Sepanjang abad ke-18, ke-19 dan awal abad ke-20, gerakan sufi besar di
Afrika dan Asia sering dihubungkan dengan gerakan Islam umumnya. Kaum sufi
dalam gerakan politik seperti kebangkitan di Maroko dan Aljazair melawan Perancis,
dan pembangunan kembali masyarakat pemerintahan Islam di Libya. Nigeria Utara
yang berhasil menentang pemerintahan kolonial Inggris di Sudan. Begitu pula
fenomena di Timur, kaum sufi Naqsabandiyah
dan Syah Waliyullah menentang
kekuasaan kolonial Inggris di India.[50]
Kaum
sufi dalam keprihatinan sosial dengan pembentukan kelompok sosial yang banyak
pengikut bagian dunia karena selama abad ke-19 yang memainkan peran penting
dalam stabilitas masyarakat. Pada abad ke-20, perubahan pergerakan kaum sufi
sangat cepat dan radikal atas penjajahan Barat dari negeri muslim hampir
menjelang akhir Perang Dunia Pertama. Kedatangan sufi di Eropa dan Amerika
Utara. Revolusi Iran membangkitkan tradisi Islam. Imam Ali yang kebanyakan
mengurusi peperangan selama bertahun-tahun memimpin umat Islam.[51]
   1.     
Nilai-Nilai
Tasawuf: Menjawab Alienasi
Berangkat dari
peristiwa diatas yang dilakukan oleh para sufi atau pengamal tasawuf memang
hadir sebagai respond dan protes atas kejahatan jiwa, sosial, kultur politik
dan masalah keagamaan. Ajaran yang mengedepankan kesalehan individualistik dan
juga kesalehan sosial sebagai peristiwa perjuangan sufi yang mampu
merekonstruksi, memotivasi, dan memobilisasi massa dalam melawan penindasan,
karena ajaran atau nilai-nilai terkandung dalam tasawuf mengedepankan
kematangan jiwa.
Ajaran atau nilai-nilai
tasawuf wajib kita ketahui sebagai filteralisasi dan kolaborasi dalam arus
modernisasi yang terkhusus pada alienasi manusia dengan dirinya, kondisi
sosial, Alam, dan masalah kepercayaan yang dalam hal ini terbagi 3 tahap yaitu
rekonstrusi tahap moral, etika psikologi, dan metafisik.[52]
a.       Rekonstruksi
Tahap Moral
Dalam tahap moral,
tasawuf muncul sebagai ilmu etika yang bertujuan untuk menyempurnakan moral
individu sebagaimana problem manusia modern yang secara berurutan terdiri atas
5 tahap. Mulai dari jiwa ke tubuh, dari rohani ke jasmani, dari
etika-individual ke politik sosial, dari meditasi menyendiri ke tindakan
terbuka, dan terakhir dari organisasi sufi ke gerakan sosio-politik.[53]
Pada tahab dari jiwa ke
tubuh, tasawuf bereaksi secara positif dan kembali kepada pensucian jiwa dengan
latihan-latihan spiritual, perbaikan moral, penyembuhan penyakit-penyakit hati
dan sebagainya. Sekarang tubuh tidak kurang parahnya dibanding jiwa:
penyakit-penyakit pada organ, kelaparan, kekurangan gizi, kurangnya sandang dan
papan yang layak. Jika semua masalah masa lampau dihubungkan dengan jiwa, maka
semua masalah saat ini dihubungkan dengan tubuh.[54]
Kemudian dari tahap
rohani ke jasmini.Rohani ke jasmani, tasawuf membuka suatu dunia ruhani baru
sebagai kompensasi atas dunia jasmani yang material, maka segala hal dibawa
ruhani, teks, bahasa, fenomena, kebenaran dan sebagainya. Segala hal memiliki
makna ganda karena realitas memiliki wajah ganda. Jika kekuasaan sosial dan
politik merampas lahiriah, maka tasawuf mempertahankan batiniah, suatu hal yang
sama dengan jargon politik modern.[55]
Tahap rekonstruksi
moral yang selanjutnya adalah dari etika individual ke politik sosial. Salah
satu alasan utama bagi kelahiran lama adalah rusaknya individu bahkan dengan
memberikan fenomena sosial penafsiran individual, maka reaksi alaminya adalah
meningkatkan pergolakan moral bagi individu dan menciptakan suatu kode etika
baru sebagai upaya mensucikan hati dari cinta kekayaan dan harta benda di dunia
atau materialistis, sebagaimana dalam ihya
membahas muhlikat yang tercela (dzamm) dari keburukan individu seperti
marah, benci, iri, kikir, tamak, munafik, angkuh, dan sombong.[56]
Tahap dari meditasi
menyendiri ke tindakan terbuka. Meditasi hanyalah cara memperoleh kekhusyukan
untuk mengungkap rasa cemas, penderitaan dan harapan mereka. Berfikir dalam
situasi sekarang, meratapi hilangnya kesalehan pada generasi permulaan dan
mempercepat datangnya kejayaan dan keselamatan masa datang, meskipun ada
pentingnya berfikir dan berpendapat secara individual, namun tindakan terbuka
diperlukan untuk perubahan.Paritisipasi rakyat dalam pembangunan sosial amat
penting dengan pembangunan spiritual sebagai komplemter.[57]
Tahap yang terakhir
adalah dari organisasi Sufi ke gerakan sosio-politik. Sebagai jalan dalam
memperoleh kekuatan membendung penyimpangan yang diduduki oleh kekuatan besar,
maka membangun kepercayaan masyarakat didahulukan dalam berangkat ke organisasi
sosial sebagai langkah terbuka membendung penyimpangan-penyimpangan yang ada,
seperti yang pernah dilakukan oleh Sanusiyah
di
Libia, Mahdiyah di Sudan dan
sebagainya.[58]
b.      Rekonstruksi
Tahap Etika Psikologi
Tasawuf dalam etika psikologi
maju dari moralitas praktis ke psikologi individual, dari ilmu perilaku ke
psikologi murni nafsu manusia. Tasawuf tidak lagi berhubungan dengan tindakan
lahir perilaku atau anggota-anggota tubuh melainkan tindakan batin kesalehan,
tindakan hati, atau rahasia-rahasia hati. Ilmu yang terdiri dari dua langkah
yaitu langkah moral (maqamat) dan
kondisi psikologis (ahwal).[59]
Dari nilai pasif ke
nilai aktif merupakan upaya terakhir untuk mendapatkan penunjang menghadapi
musuh yang memegang kendali dan mengandalkan kebaikan yang tertunda. Langkah-langkahnya
adalah taubat, sabar, syukur, miskin, zuhud, tawakkal, ridla, shamt, ‘ubudiyah,
taslim, mahabbah dan syauq. Keseluruhan sebagai nilai pasif  akan tetapi juga merupakan nilai aktif
sebagai langkah permulaan yang perlu ditransformasikan dari tingkat individual
ke tingkat sosial seperti niat, ikhlas, kebenaran, mengawasi diri, dan disiplin
diri sebagai mekanisme defensif menghadapi nafsu besar duniawi seperti kekayaan
dan angkara murka.[60]
Dari kondisi-kondisi
psikologis ke perjuangan sosial merupakan kondisi sebagai tanda jalan, sebagai
sinar atau cahaya yang secara serentak berwarna merah dan hijau untuk berhenti
atau terus menyempurnakan langkah sebelumnya atau menerobos langkah berikutnya.
Itulah sebabnya keadaan psikologis selalu berpasangan menurut dialektika antara
peniadaan dan penegasan yang bertujuan membumikan keadaan psikologis dan
mentransformasikan ke tindakan atau gerakan sosial. Sebagaimana yang
diterangkan dalam Al-Qur’an manusia dalam masyarakat dan di dunia, bukan
hubungan manusia dengan tuhan.[61]
c.       Rekonstruksi
Tahap Metafisik
Tahap terakhir
merupakan buah yang harus dikumpulkan dan direkonstruksi agar perkembangan
tersebut tercapai dibumi. Tahap metafisik terbagi 4 yaitu vertikal ke
horizontal, langkah moral ke priode sejarah, dunia lain ke dunia ini, dan dari
kesatuan khayal penyatuan nyata.[62]
Dari vertikal ke
horizontal merupakan tindakan mentransformasikan yang bersifat konklusif dan
produktif karena telah melewati tahap moral, tahap etika dan yang tertinggi
tahap metafisik sebagai gerakan pembumian. Pada saat bersamaan Tuhan adalah
Tuhan langit dan bumi.[63]
Dari langkah moral ke
periode sejarah merupakan tahap periodik dijalan pengawasan sebagai periode
sejarah yang progresif. Maka keharusan melakukan mobilitas, perubahan kemajuan,
periodisasi, kesempurnaan, rasa keharusan mengikuti pedoman, kemunduran,
kesudahan, nafsu, komitmen, perjuangan, harapan memperoleh keberhasilan dan
sebagainya. Tujuan dalam hal ini adalah perencanaan yang akurat dan dapat
dicapai sebagai suatu periode sejarah.[64]
Dari dunia lain ke
dunia ini merupakan pengasingan diri dari hubungan sosial sebagai upaya
perbaikan kesalehan diri dan kembali menata 
hubungan sosial yang jauh dari kesalehan.[65]
Dari kesatuan khayal ke
penyatuan nyata merupakan pengungkapan kesatuan antara Tuhan dan Dunia,
kebenaran dan realitas, Tuhan dan alam serta sebagainya. Tujuan akhirnya adalah
menerobos rintangan-rintangan artifisial yang dihadapi.[66]
Berbagai hal yang
dilakukan oleh tasawuf, diberi makna bahwa menghendaki demikian reaksi terhadap
sistem sosial, budaya, politik dan ekonomi. Pergerakan tasawuf berangkat dari
gerakan zuhud berdasarkan acuan normatif Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai proses
spritualisasi ketuhanannya dan mampu berperan dalam konteks sosial kemasyarakatan.
Zuhud merupakan sebagai
benteng membangun diri dari dalam diri sendiri sebagai jawaban alienasi diri
terhadap gemerlap materi. Seperti yang telah dipaparkan diatas dengan sikap
inti nilai-nilai tasawuf yaitu qana’ah,
tawakkal, wara’
dan syukur.
Sebagai benteng diri dan menjalankan fungsi seorang muslim hidup didunia dengan
amanah hamba dan khalifah, sebagai pengganti Tuhan, pengelola, pemakmur dan
meramaikan dunia.[67]
Hasil yang dicapai
seseorang ketika mengaktualisasikan nilai-nilai tasawuf disebut dengan tajalli yang mengetahui batil dan mana
hak, sebagai kristalisasi nilai religi moral dalam diri manusia dan
merefleksikan dalam setiap gerak dan aktivitasnya sebagai tranformasi diri
menjadi insan kamil dengan mencapai tuma’ninah
al-qaib,
dan raja’. Hal inilah
yang menjadi proteksi diri dan , sehingga dapat menguasai diri dan menyesuaikan
diri ditengah deru modernisasi dan industrialisasi sebagai jawan krisis moral
manusia, krisis sosial manusia dan krisis kepercayaan manusia.[68]
   2.     
Tasawuf
dan Indonesia
Di Indonesia dalam
beberapa dekade, gejala munculnya tasawuf ke panggung kehidupan keagamaan
terlihat jelas mulai dari penjualan buku-buku terlaris, penyiaran dakwah diberbagai
stasiun televisi, serta munculnya seniman dan penyair sufistik.
Sejarah panjang
Indonesia dalam kemerdekaannya tak terlepas dari peran sufisme dengan
pengislaman Nusantara dan berbagai perlawanan terhadap kolonialis yang
dilakukan oleh para Wali Songo. Sebagaimana menurut A. Mukti Ali, keberhasilan
pengembangan Islam di Indonesia adalah jasa tarekat dan tasawuf.Pada abad ke-17  hingga abad 
ke-20, sufi (tasawuf) semakin menampakkan tajinya dalam partisipasi
membela kepentingan rakyat dengan berbagai penyadaran, dan menggalang kekuatan
melawan kolonial serta kemerdekaan Indonesia  yang juga ikut berperan penting dalam dinamika
sosial politik Indonesia. [69]
Dengan demikian, Neo-sufisme
sebagai jalan dalam menghadapi sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya yang
jauh dari fitrah manusia dan falsafah Negara Indonesia yaitu Pancasila. Tasawuf
dapat menjadi polarisasi pengemblengan manusia sebagaimana ajaran tasawuf yang
menitik beratkan pada penyucian hati, jiwa dan pengamalan kesalehan atau
kebenaran. Agar bangsa Indonesia dapat mempertahankan jati dirinya yang tak
hanya berupa simbolis belaka, namun telah terpatrih dalam diri, masyarakat dan
hal-hal keagamaan sebagai filteralisasi bangsa Indonesia terhadap arus
tekonlogi informasi dan komunikasi.
   3.     
Hubungan
HMI dan Tasawuf
Begitupula pada masa
sekarang ini, perjuangan para sufi semakin terlihat dari  regenerasi para neo-sufisme dengan berbaur
pada teknologi komunikasi dan informasi sebagai era modernisasi. Dari semangat
dan motivasi neo-sufisme terbentuklah berbagai organisasi-organisasi yang
ditujukan untuk memerdekaan dan mempertahankan Indonesia salah satunya organisasi
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Himpunan Mahasiswa Islam
merupakan organisasi yang hadir dari kesadaran diri akan kultur sosio-politik
Indonesia. Organisasi yang sifatnya perjuangan dan pengkaderan, telah termaktub
jelas sebagai penggemlengan manusia yang siap terhadap zaman sebagaimana dokrin
HMI yaitu NDP (Nilai Dasar Perjuangan) yang berasaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
HMI yang berdiri pada
tanggal 5 Februari 1947 sebagai revolusi kemerdekaan Indonesia dan kisah heroik
seorang mahasiswa yang bernama Lafran Pane. Dari kegelisahannya akan kondisi
umat, kebangsaan, dan kemahasiswaan yang dapat menenggelamkan Indonesia ke
kegelapan atas westernisasi, dan imperialisme modern.[70] Maka
dari itu, Lafrane Pane dan ke-14 kawannya, berusaha membangkitkan kesadaran
rakyat Indonesia yang diawali dengan pembentukan organisasi Islam.[71]
Walaupun beridentitas Islam, namun HMI dalam pergerakannya tidak hanya
semata-mata untuk orang yang beragama Islam, akan tetapi untuk seluruh bangsa
dan Negara Indonesia yang memposisikan diri sebagai penengah dan pembaharu
sebagaimana termaktub dalam Independensi HMI.[72]
Himpunan Mahasiswa
Islam  merupakan organisasi perkaderan
dan perjuangan yang sampai saat ini, kader HMI tersebar ke berbagai daerah dan
menduduki lembaga-lembaga Negara. Hal ini merupakan kewajaran bagi seluruh
kader Himpunan Mahasiswa Islam karena dalam Tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi
yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah SWT.
Tujuan tersebut, pada intinya memberikan
arah bagi setiap kader sebagai Man of
future’, Man of innovator,
dan ‘Idea
of progress.
Dari hal inilah, kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam  menjadi manusia yang berkepribadian imbang
dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertakwa, serta
zuhud dan tawadlu kepada Allah SWT. [73]
Penggemlengan kader
melalui dokrin-dokrin HMI yaitu NDP sebagaimana dipaparkan diatas terdiri dari
7 buah yaitu Dasar-Dasar Kepercayaan, Pengertian-Pengertian Dasar Tentang
Kemanusian, Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) Dan Keharusan Universal (Taqdir),
Ketuhanan Yang Maha Esa Dan Perikemanusiaan, Individu Dan Masyarakat, Keadilan
Sosial Dan Keadilan Ekonomi, dan Kemanusiaan Dan Ilmu Pengetahuan. Hal inilah
yang menjadi pandangan keislaman HMI, sebagai penerjemahan Islam Rahmatan Lil Alamin sebagai corak dan
karakter setiap kader Himpunan Mahasiswa islam (HMI) yang menonjolkan sikap
moderat, damai, dialogis, toleran, ditengah kehidupan Indonesia dan warga dunia
yang plural sebagia pembentuk manusia Insan kamil. [74]
Dengan
demikian, seluruh kader HMI diwajibkan menjawab tantangan modernisasi
sebagaimana Tujuan, Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI dan Pembukaan UUD 1945, dengan
IMAN, ILMU dan AMAL yang merupakan nilai-nilai tasawuf yang sama-sama mengedepankan
ketauhidan, dan harmonisasi terhadap ilmu yang diaktualisasikan dengan Amal.
BAB III
PENUTUP
A.   
Kesimpulan
Tasawuf
memegang peran, baik sebagai gerakan spiritual-keagamaan yang membawa pesan
moral individual dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan-bahkan menyatu
dengan-Nya; maupun sebagai fungsi sosial dalam rangka membentuk kesalehan
sosial untuk selalu peka dan peduli dengan kondisi sosial. Menghayati dan
mengamalkan dokrin-dokrin yang diajarkan oleh sufisme, manusia dapat membangun
dinamisitas kehidupan dan survive
ditengah hingar-bingarnya dunia modern.
Tasawuf
tidaklah menghambat modernisasi, akan tetapi tasawuf sejalan dengan modernisasi
yang sebenarnya atau rasional yang tetap menyeimbangkan urusan duniawi dan
urusan ilahi. Agar manusia tahu dengan dirinya, manusia tahu bagaimana
sebenarnya hubungan dengan kondisi sosial dan bagaimana sebenarnya hubungan
manusia dengan Tuhannya untuk harmonisasi dalam kehidupan modern seperti saat
ini.
Berbagai
kekeliuran manusia, tasawuf hadir menjawab segala problem manusia dengan
gerakan individualnya dan berkancah dalam gerakan keorganisasian dan
perpolitikan, yang bertujuan mengembalikan bagaimana sebenarnya organisasi
dapat menggembleng manusia agar mampu menjawab dan sejalan dengan dunia modern
dan begitu pula dengan perpolitikan, bagaimana tasawuf sebagai pencipta
politikus dan pemimpin yang semata-mata mementingkan urusan rakyat.
Salah
satu buah pikiran gerakan tasawuf dalam keorganisasian, terbukti terpancarkan
dalam nilai-nilai Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menyeimbangkan urusan
dunia dan urusan ilahi, hamblum minannas, dan hamblum minallah, sebagai pencipta
manusia Insan Kamil, menjadi pembaharu dan pencipta peradaban diera modernisasi
saat ini.
B.    
Saran
Menerapkan
ajaran tasawuf mesti dilihat dan ditempatkan pada posisi yang wajar dan
proporsional sebagai kontinuitas dari domain-domain ajaran Islam lainnya
seperti tauhid dan syariat (fikih), sehingga
dalam penerapannyapun jangan terjadi ketimbangan atau berat sebelah. Sebab,
pengabaian salah satu diantara ketiga domain dapat menyebabkan stagnasi dalam
praktek keberagaman selanjutnya, yang berakibat klain-klain eksklusif.
Dengan
demikian, seseorang akan disebut Muslim sejati ketika totalitas dalam ajaran
Islam yakni sebagai Muwahhid (menjalankan tauhid),  faqih
(menjalankan ketentuan fikih) dan sufis (berperilaku sufi). Dalam konteks kajian Islam.

SAMPUL

 MAKALAH
INTERMEDIATE
TRAINING LATIHAN KADER II
HIMPUNAN
MAHASISWA ISLAM
CABANG
JAKARTA PUSAT-UTARA
“KONTEKSTUALISASI
NILAI-NILAI TASAWUF
DI ERA MODERNISASI”

HIMPUNAN
MAHASISWA ISLAM CABANG GOWA RAYA
KOMISARIAT
AHMAD DAHLAN
2016

DAFTAR
PUSTAKA
Ali, Fachri. Islam, Keprihatinan Universal dan Politik di Indonesia. Jakarta
Barat: Pustaka   Antar Kota, 1984.
Alvin dan Toffler, Heidi.Menciptakan Peradaban Baru: politik
gelombang ketiga.
Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002.
Dyaja, Ashad Kusuma. Teori-Teori Modernias dan Globalisasi.Bantul:
Kreasi Wajacana, 2012.
Fukuyama, Francis. Trust: kebajikan sosial dan penciptaan kemakmuran. II. Yogyakarta:
Penerbit Qalam, 2010.
Hanafi, Hassan. Agama, Ideologi dan Pembangunan. Jakarta:
P3M, 1991.
Ibn Khaldun. Mukkadimah: sebuah karya mega-fenomenal dari cendekiawan muslim
abad  pertengahan
. IV. Jakarta Timur:
Pustaka Al-Kautsar, 2014.
Karl Marx dan Friedrick Engels.Manifesto Partai Komunis. Makassar:  Titik Api, 2014.
Kuntowijoyo.Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi.III.
Bandung: Mizan, 1991.
Maarif, Ahmad
Syafii dan Tuhuleley, Said. Al-Qur’an dan
Tantangan Modernitas.
Yogyakarta:Sippres, 1990.
Majid, Nurcholish. Islam Dokrin dan Peradaban: sebuah telaah kritis tentang masalah
keimanan, kemanusiaan dan kemoderenan
. II. Jakarta : Yayasan Wakaf
Paramadina, 1992.
Mutthari,
Murthada. Manusia dan Alam Semesta.Jakarta:
Lentera, 2002.
Ni’am, Syamsun. Tasawuf
Studies: Pengantar Belajar Tasawuf
. I. Yogyakarta: AR-Ruzz Media, 2014.
Rahmat, Jalaluddin. Islam Alternatif: ceramah-ceramah dikampus. I. Bandung: Mizan,
1991.
Rifa’i, A Bachrun dan Mud’is, H Hasan.Filsafat Tasawuf. Bandung : Pustaka
Setia, 2010.
Saidi, Ridwan. Biografi, Pemikiran dan Perjuangan A. Dahlan
Ranuwirahardjo.
Jakarta: Lembaga Studi Informasi Pembangunan, 1995.
Solichin.HMI Candradimuka Mahasiswa.Jakarta
Pusat: Sinergi Persadatama Foundation, 2010.
Suryohadiprojo, Sayidiman. Makna
Moderitas dan Tantangan Terhadap Iman. Dalam Nurcholish Madjid. Islam Universal. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2007.
Suryohadiprojo,
Sayidiman. Makna Modernitas Dan Tantangan Terhadap Iman. [ed.] Budhy Rachman
Munawar. Kontekstualisasi Dokrin Islam
Dalam Sejarah
. Jakarta Selatan : Yayasan Paramadina, 1994.
Syari’ati,
Ali. Sosialisme Islam. II.
Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013.
[1]         Maarif, Ahmad Syafii
dan Tuhuleley, Said. Al-Qur’an dan
Tantangan Modernitas.
Yogyakarta: Sippres, 1990. hlm.
[2]    Perasaan seorang sufi beda dengan perasaan
seseorang yang berpikiran liberal. Perasaan seorang sufi tidak
merepresentasikan kesadaran akan derita batin yang dirasakan orang sebagai
kebtuhan alamiahnya. Orang yang liberal pikirannya pertama-tama menyadari derita
yang terjadi diluar, baru kemudian merasakan deritanya sendiri. Dipihak lain,
derita sufi merupakan kesadaran batin akan kebutuhan spiritual, persis
sebagaimana derita jasmani merupakan peringatan tentang adanya kebutuhan
jasmani. Mutthari, Murthada. Manusia dan
Alam Semesta.
Jakarta: Lentera, 2002.hlm.260
[3]Ibn Khaldun. Mukkadimah: sebuah karya mega-fenomenal dari
cendekiawan muslim abad pertengahan
. IV. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar,
2014. hlm. 865.
[4]Majid, Nurcholish.Islam Dokrin dan Peradaban: sebuah telaah kritis
tentang masalah keimanan, kemanusiaan dan kemoderenan.
II. Jakarta : Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.
hlm. 262-263.
[5]Rifa’i, A Bachrun dan
Mud’is, H Hasan.
Filsafat Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia, 2010. hlm. 24.
[6]Ibid.,
[7]Ibid.,hlm. 25-26
[8]Ibid., hlm. 26
[9]Ibn Khaldun. Mukkadimah: sebuah karya mega-fenomenal dari
cendekiawan muslim abad pertengahan
. IV. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar,
2014. hlm. 865.
[10]Rahmat, Jalaluddin. Islam Alternatif: ceramah-ceramah dikampus.
I. Bandung: Mizan, 1991. hlm. 91.
[11]Ni’am, Syamsun. Tasawuf Studies: Pengantar Belajar Tasawuf.
I. Yogyakarta: AR-Ruzz Media, 2014. hlm. 28-29.
[12]Rifa’i, A Bachrun dan
Mud’is, H Hasan.
Filsafat Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia, 2010. hlm.  27
[13]Ibid., hlm. 30
[14]Ni’am, Syamsun, op. cit., hlm.31.
[15]Ibid.,hlm. 13.
[16]Ibid.,hlm. 14.
[17]Ibid.,hlm. 204.
[18]     Madjid, Nurcholish. Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan. II. Bandung: Mizan, 2013. hlm.
207-208.
[19]Maarif, Ahmad Syafii
dan Tuhuleley, Said. Al-Qur’an dan
Tantangan Modernitas.
Yogyakarta: Sippres, 1990. hlm. 107.
[20]      Madjid, Nurcholish, op. cit., hlm. 208.
[21]    Dyaja, Ashad Kusuma. Teori-Teori Modernias dan Globalisasi.Bantul: Kreasi Wajacana, 2012.
hlm.
[22]Ibid.,hlm.
[23]Maarif, Ahmad Syafii
dan Tuhuleley, Said. Al-Qur’an dan
Tantangan Modernitas.
Yogyakarta: Sippres, 1990. hlm. 111.
[24]Madjid, Nurcholish. Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan. II.
Bandung: Mizan, 2013. hlm. 121.
[25]  Suryohadiprojo, Sayidiman. Makna Moderitas
dan Tantangan Terhadap Iman. Dalam Nurcholish Madjid. Islam Universal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007. hlm. 146-147.
[26]Ibid.,hlm. 147-148.
[27]Suryohadiprojo,
Sayidiman. Makna Modernitas Dan Tantangan Terhadap Iman. [ed.] Budhy Rachman
Munawar. Kontekstualisasi Dokrin Islam
Dalam Sejarah
. Jakarta Selatan : Yayasan Paramadina, 1994, hlm. 555.
[28]     Syari’ati, Ali. Sosialisme Islam.II. Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013. hlm.
7.
[29]      Fukuyama, Francis. Trust: kebajikan sosial dan penciptaan kemakmuran. II. Yogyakarta:
Penerbit Qalam, 2010. hlm. 57.
[30]      Madjid, Nurcholish. Islam kemoderenan dan keindonesiaan.II. Bandung: Mizan, 2013. hlm.
169.
[31]Karl Marx dan
Friedrick Engels.Manifesto Partai
Komunis.
Makassar:  Titik Api, 2014.
Hlm. 9
[32]Alvin dan Toffler,
Heidi.Menciptakan Peradaban Baru: politik
gelombang ketiga.
Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002. hlm. 6-15.
[33]Ibid.,hlm. 16-17.
[34]Robert N Bellah dalam
bukunya yang berasal dari tesis Ph.D-nya, Bellah mengemukakan adanya hubungan
dinamis antara agama Tokugawa dan kebangkitan ekonomi Jepang modern.Baginya
etika ekonomi jepang modern bersumber dari etika kelas samurai yang merupakan
tulang punggung pembaharuan Meiji (1868-1911), dan etika samurai itu sendiri
berakar dalam ajaran-ajaran Tokugawa.Madjid, Nurcholish. Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan.hlm. 174.
[35]Kuntowijoyo.Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi.III.
Bandung: Mizan, 1991. hlm. 159-160.
[36]   Ali, Fachri. Islam, Keprihatinan Universal dan Politik di Indonesia. Jakarta
Barat: Pustaka   Antar Kota, 1984. hlm.
42-43.
[37]Ibid.,hlm. 43. 
[38]Ibid.,
[39]      Syari’ati, Ali. Sosialisme Islam. II. Yogyakarta: RaunsyanFikir Institute, 2013.
hlm. 75-76.
[40]Ibid.,hlm. 76.
[41]      Ali, Fachry, op.cit.,hlm. 44.
[42]Suryohadiprojo,
Sayidiman. Makna Modernitas Dan Tantangan Terhadap Iman. [ed.] Budhy Rachman
Munawar. Kontekstualisasi Dokrin Islam
Dalam Sejarah
. Jakarta Selatan : Yayasan Paramadina, 1994, hlm. 555.
[43]Madjid, Nurcholish. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan.II.
Bandung: MIzan,  2013. hlm. 227-228
[44]Fukuyama, Francis. Trust: kebajikan sosial dan penciptaan
kemakmuran.
II. Yogyakarta: Qalam, 2010. hlm. 410.
[45]     Madjid, Nurcholish, op.cit.,hlm. 229.
[46]Ibid.,hlm. 136.
[47]Ibid.,hlm. 229.
[48]Ibid.,hlm. 229-230.
[49]       Ni’am, Syamsun. Tasawuf Studies: pengantar  belajar tasawuf. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2014.  hlm.203.
[50]Rifa’i, A Bachrun dan
Mud’is, H Hasan.
Filsafat Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia, 2010. hlm. 299-300.
[51]Ibid.,hlm. 300-301.
[52]       Hanafi, Hassan. Agama, Ideologi dan Pembangunan.I. Jakarta: P3M, 1991. hlm. 75-76.
[53]Ibid.,hlm. 76.
[54]Ibid.,
[55]Ibid.,hlm. 77.
[56]Ibid.,
[57]Ibid.,hlm. 78.
[58]Ibid.,hlm. 78-79.
[59]Ibid.,hlm. 79
[60]Ibid.,hlm. 79-87.
[61]Ibid.,hlm. 87-97.
[62]Ibid.,hlm. 97.
[63]Ibid.,hlm.  97-98.
[64]Ibid.,hlm. 98.
[65]Ibid.,hlm. 98-99.
[66]Ibid.,hlm. 100.
[67]Rifa’i, A Bachrun dan Mud’is, H Hasan, op.cit., hlm. 305.
[68]Ibid.,hlm. 306.
[69]Saidi, Ridwan. Biografi, Pemikiran dan Perjuangan A. Dahlan
Ranuwirahardjo.
Jakarta: Lembaga Studi Informasi Pembangunan, 1995. hlm.
206-224.
[70]Solichin.HMI Candradimuka Mahasiswa.Jakarta
Pusat: Sinergi Persadatama Foundation, 2010. hlm. 3.
[71]Ibid.
hlm.
5
[72]Ibid.,hlm. 38-39.
[73]Ibid.,hlm. 34-36.
[74]Ibid.,89 -95.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *