Budi Utomo, Organisasi Pergerakan Nasional Masa Pendudukan Belanda


Politik etis yang telah diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda telah membawa efek munculnya kaum priayi JAwa yang “baru” atau priayi rendahan. Mereka mempunyai pandangan bahwa pendidikan adalah suatu kunci untuk mendapatkan kemajuan. KElompok inilah yang termasuk kelompok pertama pembentuk suatu organisasi yang memang benar-benar modern.

Dengan dilatarbelakangi situasi ekonomi yang memburuk di wilayah pulau Jawa karena adanya eksploitasi oleh kaum kolonial, seorang priayi baru yaitu dr. Wahidin Sudirohusodo bangkit mengangkat kehormatan rakyat Jawa dengan cara memberikan pengajaran. Dia berusaha menghimpun dana beasiswa (study fond) untuk dapat memberikan pendidikan barat kepada golongan para priayi jawa.

Kampanye ini pada awalnya kurang memperoleh tanggapan dari kaum priayi tua yang beranggapan konservatif. Akan tetapi, gagasan tersebut mendapatkan sambutan dari kaum priayi kalangan muda, terutama para pelajar STOVIA, diantaranya yaitu Soetomo. Kemudian Soetomo bersama dengan rekan-rekannya seperti Goembrek, Saleh, Soeleman dan Goenawan Mangoenkoesoemo melakukan suatu pertemuan dan diskusi di perpustakaan School tot Opleiding van inlandsche Artsen (STOVIA). Dari sinilah lahir suatu organisasi pergerakan Budi Utomo di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908.

School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) adalah sekolah dokter yang didirkan untuk orang-orang pribumi di zaman kolonial Hindia Belanda yang saat itu berada di Batavia. Saat ini sekolah tersebut sudah berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Mereka semua senantiasa memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk, selalu dianggap bodoh, dan tak memiliki martabat di hadapan bangsa yang lainnya (Belanda), serta bagaimana cara supaya keluar dari belenggu yang sudah semakin membuat kondisi bertambah buruk dan tak adil. PAra pejabat Pangreh Praja (Sekarang disebut pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Namun dalam kenyataannya di lapangan mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, semisal dengan cara menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk dapat memuaskan hati atasan dan para penguasa Belanda.



Budi Utomo, Organisasi Pergerakan Nasional Masa Pendudukan Belanda

Budi Utomo, Organisasi Pergerakan Nasional Masa Pendudukan Belanda
Budi Utomo, Organisasi Pergerakan Nasional Masa Pendudukan Belanda

Para mahasiswa itu juga telah menyadari bahwa orang lain mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan sendiri dan masih bersifat kedaerahan, sehingga sasarannya pun hanya permasalahan yang terjadi di daerahnya masing-masing tanpa ada pemikiran untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang bersifat nasional. Perkumpulan tersebut tidak ingin mengajak bahkan tidak ingin menerima orang-orang yang berbeda latar belakang dengan mereka. Sebagai contoh yaitu perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan hanya untuk golongan Tionghoa dan Indische Bond untuk golongan Indo-Belanda. Pemerintah HIndia Belanda secara jelas tidak dapat diharapkan mau dan bisa menolong serta memperbaiki nasib rakyat kecil kaum pribumi, bahkan sebaliknya, mereka selama ini sudah menyengsarakan kaum pribumi dengan cara mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangatlah merugikan rakyat kecil



PAra pemuda tersebut pada akhirnya bersepakat bahwa merekalah yang seharusnya mengambil keputusan untuk dapat menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk dapat mendirikan sebuah perkumpulan yang akan dapat mempersatukan semua orang Sunda, Jawa, dan Madura yang diharapkan dapat memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini bersifat terbuka kepada siapa saja tanpa melihat latar belakang, kedudukan, kekayaan, jenis kelamin atau pendidikannya. Akan tetapi saat itu terdapat peraturan yang berasal dari pemerintah Belanda, yakni Regeerings REglement pasal 111, yang telah melarang didirikannya perkumpulan politik atau perkumpulan yang dianggap dapat mengganggu ketenteraman umum. Bahkan pembicaraan yang berkaitan dengan permasalahan politik dianggap tabu. Untuk dapat menghindari dibubarkannya perkumpulan tersebut oleh pemerintah Belanda maka mereka mencantumkan tujuan organisasinya pada segi sosial budaya. Jadi mereka berusaha untuk dapat menghindari pembicaraan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat politis. Walaupun pada akhirnya pergerakan dari perkumpulan ini lebih banyak mengarah pada politik.



PAda hari minggu, tanggal 20 mei 1908 pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA. Soetomo yang didampingi oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo menjelaskan tentang gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah air ada di tangan mereka, maka pada hari itu hadirlah Budi Utomo. Dalam pergerakannya BUdi Utomo mempunyai tujuan sebagai berikut.

a. Mengupayakan hubungan kekeluargaan atas segenap bangsa bumi putera.
b. Mengadakan suatu perbaikan pengajaran di sekolah-sekolah.
c. Mendirikan badan wakaf yang akan mengumpulkan dana untuk kepentingan belanja pada anak-anak sekolah
d. Memajukan kebudayaan dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan di dalam usaha mencapai kehidupan layak.

AKan tetapi para pemuda itu juga telah menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, selain harus berorganisasi. Oleh karena itulah, mereka berpendapat bahwa kaum tualah yang mesti memimpin Budi Utomo, sedangkan untuk kaum muda / pemuda itu sendiri akan menjadi motor yang akan dapat menggerakkan organisasi tersebut. Kalangan priayi gedhe yang telah mapan tak senang terhadap kampanye yang dilakukan dr. Wahidin Sudirohusodo dan juga atas lahirnya Budi Utomo yang dicetuskan oleh Soetomo. Para bupati membentuk suatu perkumpulan Regenten Bond Setia Mulia di Semarang, untuk dapat mencegah cita-cita Budi Utomo yang telah dianggap mengganggu stabilitas mereka.

PAda awalnya, para pemuda tersebut berjuang untuk penduduk yang tinggal di pulau Madura dan Jawa (Suku Bangsa Jawa). Mereka mengakui bahwa mereka masih belum mengetahui aspirasi, nasib dan keinginan suku-suku bangsa yang lainnya di luar Pulau Jawa, terutama Ambon, Manado dan Sumatra. Dengan demikian bahwa sekali lagi pada awalnya Budi Utomo memang memfokuskan perhatiannya kepada penduduk yang telah mendiami Pulau Jawa dan Madura saja. Menurut anggapan dari para pemuda itu, penduduk Pulau Jawa dan Madura terikat oleh adanya kebudayaan yang sama.

Walaupun para pemuda tersebut merasa tak mengetahui banyak mengenai nasib, kondisi, sejarah dan aspirasi dari suku-suku bangsa yang ada di luar Pulau Madura dan Pulau Jawa, tetapi mereka mengetahui bahwa pada saat itu orang Manado memperoleh gaji lebih banyak dan diperlakukan lebih baik dibandingkan orang Jawa. Padahal dari segi pendidikan, keduanya memiliki jenjang yang sama. Itulah sebabnya, pemuda Soetomo dan kawan-kawan yang lainnya tak mengajak pemuda-pemuda yang ada di luar Jawa untuk menjalin kerjasama, hanya karena mereka khawatir untuk ditolak.

Sebagai suatu organisasi yang baik, maka Budi Utomo memberikan suatu usulan kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai berikut:

a. Mengupayakan hubungan kekeluargaan atas segenap bangsa bumi putera.
b. Mengadakan suatu perbaikan pengajaran di sekolah-sekolah.
c. Mendirikan badan wakaf yang akan mengumpulkan dana untuk kepentingan belanja pada anak-anak sekolah
d. Memajukan kebudayaan dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan di dalam usaha mencapai kehidupan layak.

AKan tetapi para pemuda itu juga telah menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, selain harus berorganisasi. Oleh karena itulah, mereka berpendapat bahwa kaum tualah yang mesti memimpin Budi Utomo, sedangkan untuk kaum muda / pemuda itu sendiri akan menjadi motor yang akan dapat menggerakkan organisasi tersebut. Kalangan priayi gedhe yang telah mapan tak senang terhadap kampanye yang dilakukan dr. Wahidin Sudirohusodo dan juga atas lahirnya Budi Utomo yang dicetuskan oleh Soetomo. Para bupati membentuk suatu perkumpulan Regenten Bond Setia Mulia di Semarang, untuk dapat mencegah cita-cita Budi Utomo yang telah dianggap mengganggu stabilitas mereka.

PAda awalnya, para pemuda tersebut berjuang untuk penduduk yang tinggal di pulau Madura dan Jawa (Suku Bangsa Jawa). Mereka mengakui bahwa mereka masih belum mengetahui aspirasi, nasib dan keinginan suku-suku bangsa yang lainnya di luar Pulau Jawa, terutama Ambon, Manado dan Sumatra. Dengan demikian bahwa sekali lagi pada awalnya Budi Utomo memang memfokuskan perhatiannya kepada penduduk yang telah mendiami Pulau Jawa dan Madura saja. Menurut anggapan dari para pemuda itu, penduduk Pulau Jawa dan Madura terikat oleh adanya kebudayaan yang sama.

Walaupun para pemuda tersebut merasa tak mengetahui banyak mengenai nasib, kondisi, sejarah dan aspirasi dari suku-suku bangsa yang ada di luar Pulau Madura dan Pulau Jawa, tetapi mereka mengetahui bahwa pada saat itu orang Manado memperoleh gaji lebih banyak dan diperlakukan lebih baik dibandingkan orang Jawa. Padahal dari segi pendidikan, keduanya memiliki jenjang yang sama. Itulah sebabnya, pemuda Soetomo dan kawan-kawan yang lainnya tak mengajak pemuda-pemuda yang ada di luar Jawa untuk menjalin kerjasama, hanya karena mereka khawatir untuk ditolak.

Sebagai suatu organisasi yang baik, maka Budi Utomo memberikan suatu usulan kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai berikut:

a. Meninggikan tingkat pengajaran di sekolah guru, baik itu guru bumi putera maupun sekolah priayi.
b. Memberikan beasiswa kepada orang-orang bumi putera.
c. Menyediakan lebih banyak tempat kepada sekolah pertanian.
d. Izin pendirian sekolah desa untuk organisasi Budi Utomo.
e. Mengadakan sekolah VAK/kejuruan kepada para BUmi Putera dan para perempuan.
f. Memelihara tingkat pelajaran di sekolah-sekolah dokter Jawa.
g. Mendirikan TK atau taman kanak-kanak untuk bumi putera.
h. Memberikan kesempatan kepada bumi putera untuk dapat mengenyam bangku pendidikan di sekolah rendah Eropa atau sekolah Tionghoa – Belanda.

Kongres Budi Utomo yang pertama diadakan di Yogyakarta pada tanggal 3 sampai 5 Oktober 1908. Pada kongres tersebut dihadiri oleh 8 cabang perwakilan, antara lain dari Bandung, Bogor, Magleang, Yogyakarta I, Yogyakarta II, Jakarta, Probolinggo dan Surabaya.

Adapun susunan pengurus Kongres Budi Utomo yang pertama yaitu:

Ketua : Raden Tumenggung Aryo Tirtokusumo (Bupati Karanganyar)
Wakil Ketua : Wahidin Sudirohusodo
Sekretaris I : Mas Ngabei Dwidjosewojo
Sekretaris II : Raden Sostrosugondo
Bendahara : Raden Mas Panji Gondatmodjo
Komisaris : Raden Mas Arjo Surdiputro, Tjipto Mangunkusumo, Raden Djojosubroto, Panji Gondsumarjo.

Pada kongres tersebut juga muncul dua kelompok yaitu kelompok yang pertama diwakili oleh golongan para pemuda yang merupakan minoritas yang cenderung menempuh jalan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial. Adapun kelompok yang kedua merupakan suatu golongan mayoritas diwakili oleh golongan tua yang menempuh jalur perjuangan dengan cara lama yakni Sosiokultural.

Golongan minoritas yang memiliki pandangan yang maju dalam organisasi Budi Utomo dipelopori oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo, ingin menjadikan Budi Utomo bukan hanya sebatas partai Politik yang mementingkan rakyat, melainkan menjadi sebuah organisasi yang kegiatannya tersebar di seluruh daerah di Indonesia, bukan hanya di Madura dan Jawa saja. Sementara itu, golongan tua menginginkan adanya pembentukan dewan pimpinan yang didominasi oleh para pejabat generasi tua. Golongan ini juga telah mendukung pendidikan yang luas untuk kaum priayi dan mendorong kegiatan penguasa Jawa.

Akhirnya pada kongres tersebut dicapai sebuah keputusan untuk dapat mengonsolidasikan diri yakni sebagai berikut:

a. Tak mengadakan kegiatan politik
b. Bidang utama yaitu pendidikan dan kebudayaan
c. Ruang gerak Budi Utomo terbatas hanya pada wilayah Madura dan Jawa.
d. Mengangkat R.T.A Tirtokusumo yang menjabat Bupati Karanganyar sebagai ketua dan pusat kegiatan organisasi yang ditetapkan di Yogyakarta.

Dengan terpilihnya R.T.A Tirtokusumo (yang akhirnya mengundurkan diri di tahun 1909), yang merupakan seorang Bupati, memiliki tujuan supaya lebih memberikan kekuatan kepada Budi Utomo. Sebagai bupati, dia diharapkan bisa memberikan pengaruh positif di dalam menggalang keanggotaan di tubuh BUdi Utomo. Karena ketuanya seorang Bupati maka BUdi Utomo memilih garis perjuangan kooperatif, yang berarti bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Budi Utomo termasuk organisasi pelopor yang perjuangannya mempunyai sifat organisasi modern yang pada akhirnya menjadi acuan untuk gerakan yang berikutnya. Meskipun ruang lingkup kegiatan BUdi Utomo yang terbatas dan wilayahnya hanya mencakup Madura, Bali dan Jawa, akan tetapi Budi Utomo menjadi tonggak awal kebangkitan Bangsa.

BUdi Utomo menyatakan tak akan terlibat pada kegiatan politik. Oleh karena itulah, pemerintah Kolonial Belanda menganggap BUdi Utomo tak membahayakan dan akhirnya mengesahkan organisasi tersebut di tahun 1908. Setelah BUdi Utomo berbadan hukum, para anggotanya mengharapkan kegiatan organisasi akan bisa berjalan semakin lancar dan berkembang. Akan tetapi dalam perjalannya, gerak Budi Utomo menjadi berjalan lamban yang telah disebabkan oleh hal-hal berikut:
a. Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan kepada kalangan priayi dibandingkan penduduk pada umumnya.
b. Ketua Budi Utomo yang berkedudukan bupati lebih mementingkn pemerintah Kolonial Belanda dibandingkan rakyat Indonesia.
c. Menonjolnya kaum priayi yang lebih memprioritaskan jabatan menyebabkan kalangan pelajar yang nasionalis menjadi terpinggirkan dalam organisasi.

Saat perang Dunia I mulai (1914 – 1918), pemerintah Kolonial mulai melakukan suatu tekanan kepada Budi Utomo. Hal tersebut dialkukan oleh pemerintah kolonial Belanda karena organisasi tersebut berusaha untuk mengalihkan arahnya kepada bidang politik.

Untuk menyikapi hal tersebut, Budi Utomo mengadakan rapat di Bandung pada tanggal 5 sampai 6 Agustus 1915. Di dalam rapat umumnya tersebut ditetapkan mosi yang menegaskan bahwa perlunya misi yang mesti diputuskan dalam parlemen. Menurut BUdi Utomo, untuk tujuan tersebut harus dibentuk dewan perwakilan rakyat secara terlebih dahulu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Budi Utomo ikut dalam komite Indie Weeber, yang dalam rapat-rapatnya diusulkan untuk bisa membentuk dewan rakyat (volksraad). Atas usulan Budi Utomo tersebut ternyata dewan rakyat baru bisa teralisasi di akhir perang yaitu 1918. Dalam dewan ini banyak orang Budi Utomo yang menjadi wakilnya. Belanda memang memberikan peluang kepada budi Utomo karena Budi Utomo memiliki sikap moderat sehingga pemerintah kolonial tak terlalu mengkhawatirkan organisasi tersebut.

Pada dekade ketiga abad ke-20, April 1930, BU membuka keanggotaannya untuk semua golongan bangsa Indonesia. Pada kongres April 1931, anggaran dasar Budi Utomo diubah untuk dapat membuka diri. Pada kongres tersebut diputuskan untuk bekerjasama dengan organisasi yang lainnya berdasarkan prinsip kooperatif. Dalam konferensi yang diselenggarakan di bulan Desember 1932 di Solo, diumumkan tentang disahkannya badan persatuan yang terdiri atas organisasi-organisasi yang memiliki tujuan untuk mencapai Indonesia merdeka. Umumnya organisasi tersebut akan bersifat kooperatif akan tetapi terhadap sesuatu hal yang lain bisa menjadi non kooperatif.

Tetapi di dalam tubuh Budi Utomo sendiri selanjutnya terjjadi perpecahan yang telah menyebabkan BUdi Utomo menjadi 2 yakni kalangan moderat dan kalangan radikal. Mereka masing-masing mempunyai pahaman yang berbeda-beda. Di satu sisi menginginkan Budi Utomo berjalan terus dengan memprioritaskan segi sosial budayanya (sesuai dengan dasar pergerakan awal) dan di lain sisi menginginkan Budi Utomo mengubah arah pergerakannya menjadi gerakan politik. Perpecahan ini pada akhirnya bisa diakhir setelah organisasi Budi Utomo digabungkan dengan persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dan dilebur dalam organisasi baru dengan nama Partai Indonesia Raya (Parindra) di tahun 1935.

Kegagalan Budi Utomo di dalam pergerakannya untuk dapat mencapai kemerdekaan disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

a. Mengalami kesulitan finansial
b. Keluarga R.T. Tirtokusumo lebih memperhatikan kepentingan pemerintah kolonial dibandingkan rakyat. Hal inilah yang telah membuat rakyat menjadi marah dan menginginkan R.T Tirtokusumo untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua Budi Utomo.
c. Lebh memajukan pendidikan kaum priayi dibandingkan rakyat jelata.
d. Keluarga anggota-anggota dari kalangan mahasiswa dan pelajar.
e. Bupati-bupati lebih menyukai mendirikan organisasi masing-masing.
f. Bahasa Belanda lebih menjadi fokus utama dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.
g. Pengaruh golongan priayi yang mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan dengan yang nasionalis.

Dari ketujuh hal di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa organisasi Budi Utomo belum berhasil untuk mengibarkan bendera untuk melawan penjajah dengan cara perjuangan diplomitas. Salah satu penyebab utama kegagalannya yaitu masih kurangnya rasa cinta terhadap tanah air sendiri dan masih mengutamakan kepentingannya sendiri dibandingkan kepentingan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *