Bagaimana Cara Anda Memandang Ontologi?



OLEH KSATRIAWAN ZAENUDDIN, S.IP : Dalam dunia ini, terdapat sesuatu hal yang dikatakan benar dan bersifat objektif ternyata merupakan ilusi yang membutakan setiap manusia. Hal itu, maka dibutuhkan upaya bagi setiap manusia dalam mengamati dan melihat berbagai petunjuk secara objektif, tidak terjebak apalagi tersesat melihat masalah yang ada. Manusia dituntut untuk mempertajam dalam memandang, menentukan secara akurat dan melihat secara komprehensif. Upaya ini dapat ditempuh oleh setiap manusia dengan berpikir kritis, untuk menemukan dan mengetahui sesuatu yang bersifat objektif.

Cabang ilmu yang berusaha membangkitkan daya kritis manusia adalah Filsafat. Filsafat sebagai refleksi rasional, berpikir kritis dan radikal mengenai hal yang mendasar dalam kehidupan ini. Filsafat mengajak setiap manusia untuk mempergunakan akal atau rasionnya sebagaimestinya. Filsafat berisi penjelasan yang bersifat substansial dan radikal terhadap masalah yang ada. Filsafar juga disebut sebagai tumpuan berbagai persoalan yang tidak dapat dijawab oleh disiplin ilmu. Filsafat juga disebut sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan baik yang semakin terspesialisasi dan bersifat mandiri.

Secara etimologi, Filsafat berasal dari kata Yunani yang disebut Philosphia yang terbagi atas dua kata Philos yaitu “Cinta” dan Spohia yaitu “Kebijaksanaan”. Diksi dari kata cinta menunjukkan ketertarikan yang mendalam, memiliki unsur kekaguman yang begitu dasyat terhadap suatu objek tertentu dan membuat terhanyut ke dalamnya. Ibarat dua sejoli yang rela mati demi ketertarikan atau ibarat cinta Rabiah kepada Tuhan yang beribadah tanpa mengharapkan surga dan neraka, sekalipun dirinya berada di neraka tak mengapa asal tetap berada dalam keridhaan-Nya.

Sedangkan kata Kebijaksanaan erat kaitannya dengan kata Hikmah, yang merujuk agar bertindak sesuai dengan akal dan pikirannya, menghasilkan perilaku yang tepat, pengetahuan yang luas dalam memutuskan berbagai hal. Filsafat tidak hanya melihat pada tataran fenomena atau gejala di permukaan melainkan jauh dari pada hal itu, filsafat melihat hakikat dari fenomena tersebut baik yang bersifat materi maupun immateri. Seperti kata Al Farabi bahwa “al-ilmu bilmaujudaat bima hiya al-maujudaat” artinya suatu ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada ini.

Hal itulah terkadang filsafat bisa bersifat kongkret dan juga praktis, namun juga terkadang filsafat disebut bersifat abstrak. Abstrak karena sulit dipahami dan sangat jauh berbeda dari cara pandang manusia pada umumnya. Filsafat sebagai ilmu esensinya berusaha memahami hakikat sesuatu yang “ada” (being), sebagai objek sasaran, maka filsafat ilmu adalah ilmu yang berusaha memaknai yang menjadi hakikat pengetahuan itu sendiri, perenungan secara mendasar dan berbagai implikasinya ke berbagai bidang kajian.

Bagaimana Cara Anda Memandang Ontologi? 

Berbicara tentang filsafat ilmu, maka terlebih dahulu harus memahami tiga aspek atau landasan berpikir filsafat. Ketiga aspek berfilsafat diantaranya ada ontologi, epistemologi dan aksiologi. Setiap jenis ilmu pengetahuan pastinya memiliki ciri-ciri yang spesifik untuk menjawab apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) suatu ilmu pengetahuan itu disusun.

Pada kali ini penulis mencoba untuk membahas mengenai Ontologi, membahas mengenai apa, mengenai keberadaan dari sesuatu itu. Secara etimologi, kata Ontologi berasal dari Bahasa Yunani yang artinya on, ontos (ada, keberadaan) dan logos (ilmu tentang) dengan demikian maka ontology merupakan pengetauan tentang ada. Istilah ini diperkenalkan oleh Cluaberg pada tahun 1647, Mircraelius tahun 1653, dan Du Hamel tahun 1663 dan dibakukan dan diterima oleh Gottfried Wilhelm Leibniz (164701716), Christian Wolff (1679=1762), dan Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762). Ontologi juga identik dengan metafisika dan bahkan dijadikan sinonim.

Ilmu yang mempelajari hakikat “yang ada”, perlu dibedakan kajian antara filsafat dan ranah kajian Ilmu. Secara ontologi, berbicara pada persoalan ada dalam filsafat maka berkaitan dengan dunia universal, kosmologi, alam semesta dan teologi. Berkedudukan antara ranah abstraksi dan bersifat abstrak atau dapat disebut objek material “yang ada” dan “mungkin ada” bukan pada ranah empiris. Lalu untuk ontology dalam ilmu, hakikat tentang ada pada tataran yang dapat diindrai atau bersifat empiris. Sehingga dapat didengar, dilihat dan dirasakan. Contohnya ilmu sains, ilmu eksak, ilmu politik, sosial, budaya dan psikologi.

Hal itulah sehingga dalam aspek Ontologi filsafat, para filsuf Yunani kuno seperti Thales menyampaikan bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah  Air, bagi Anaximandros adalah define metter, boundless, aperion atau sesuatu yang tak terbatas, sementara bagi Anaximenes bahwa hakikat segala sesuatu adalah udara dan seterusnya. Lalu, untuk Ontologi keilmuan mengkaji hakikat “yang ada” yang menelaah “materi atau benda” yang bisa diindrai. Hal itu adalah manusia dan alam. Maka disebutlah ontologi atau hakikat manusia dan ontologi/hakikat alam.  Kedua hal ini kemudian akan menjadi ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.

Manusia memiliki unsur (materi) kealaman seperti kulit, kerangka, atau aspek tubuh dan anatomi. Mengkaji manusia secara objek, manusia dapat dilihat dari duall hal yaitu, materi dan atau material fisik. Wujud fisik manusia mengalami perubahan hingga mati. Dan jiwa adalah sesuatu yang tetap dan disebut terus hidup dan hanya berpindah dari alam ke alam yang tidak bisa diindrai. Sekalipun jiwa juga bersifat immateri, namun yang dapat diamati dari jiwa secara empiris adalah bentuk perilaku dan sikap.

Bertolak dari pemahaman ini, lahirlah ilmu psikologi dan berbagai ilmu seperti sosiologi manusia sebagai makhluk sosial dan Antropologi sebagai manusia yang senantiasa memproduk kebudayaan. Perdebatan dalam kajian ontology keilmuan melahirkan ragam pemikiran sebagaimana dalam kajian filsafat. Perdebatan itu terjadi akibat dari lahirnya berbagai aliran pemikiran yakni monoisme, dualism, pluralism, agnotisisme dan nihilisme. Walau dari banyaknya aliran dalam ontology, terdapat hal yang bisa kita ambil sebagai kesimpulan. Objek kajian dalam ontologi paling tidak terdapat dua hal yaitu segala yang ada dan mungkin ada. Maksud dari segala yang ada adalah realitas fisik, dan yang mungkin adalah adalah realitas metafisika.

Ontologi ini perlu bagi setiap manusia yang ingin mempelajari secara menyeluruh tentang alam semesta ini dan berguna bagi bidang studi ilmu empiris seperti fisika, sosiologi, antropologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, ilmu teknik dan lainnya). Ontologi merupakan hakikat apa yang dikaji atau ilmunya itu sendiri. Ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek pengetahuan. Ontologi merupakan spesifikasi dari sebuah konseptual, dengan kata lain ontologi merupakan penjelasan dari suatu konsep dan keterhubungannya dari ilmu tersebut.

Daftar Pustaka

Rokhmah, D. 2021. Ilmu Dalam Tinjauan Filsafat: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Jurnal Volume 7 No.2. Cendekia: Jurnal Studi Keislaman

Azwar, Welhendri dan Muliono. 2020. Filsafat Ilmu: Cara Mudah Memahami FIlsafat Ilmu. Cet 2. Jakarta: Prenadamedia Group.

Junaedi M dan Wijaya, MM. 2019. Pengembangan Paradigma Keilmuan Persepktif Epistemologi Islam: Dari Perenialisme hingga Islamisme, Integrasi-Interkoneksi dan Unity of Sciences. Jakarta: Prenadamedia Group.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *