Apa Yang Dimaksud Deontologi? Ini Artinya


Dalam dunia etika ada yang dikenal dengan teleologi dan deontologi. Yang dimaksud dengan teleologi adalah sebagai ertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan deontologi dapat dilihat pada pembahasan dibawah ini

Kaitan mengapa perlu membahas deontologi karena dalam berbisnis terkadang persoalan etika menjadi masalah yang begitu penting. Karena tak jarang teradpat bisnis yang tidak memperhatikan masalah etka dan ada juga bisnis yang memperhatikan masalah etika.

Biasanya bagi bisnis yang memperhatikan hal tersebut, tida akan memberikan kerugian atau dampak buruk bagi perusahaan atau jalinan kerja sama yang telah mereka bangun sebab telah diatur dalam suatu peraturan.

Tetapi tidak sedikit juga dewasa ini pebisnis cenderung mengambil tindakan segala cara yang bisa saja melabrak prinsip atau etika dalam berbisnis.

Hal yang umum terjadi seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan, penyalahgunaan dalam penentuan harga terhadap suatu produk atau jasa yang ditawarkan, perilaku tidak adil terhadap karyawan,

Selain itu terkadang juga dijumpai dimana ada pebisnis yang tidak etis saat menjalin kerjasama dengan pelanggan dan sesama rekan bisnis, tidak adanya kesejahteraan dalam perusahaan (sebagai contohnya, karyawan diberi upah lembur yang tidak sesuai, karyawan tidak diberi tunjangan dengan selayaknya), serta tidak adanya tanggung jawab sosial dan
lingkungan.

Dalam etika dikenal aliran etika deontologi, lantas seperti apakah deontologi itu dan apa pengertiannya? berikut penjelasannya.

Pengertian Deontologi Adalah? 

Deontologi berasal dari kata Deon yang berarti tugas atau kewajiban. Apabila sesuatu dilakukan berdasarkan kewajiban, maka ia melepaskan sama sekali moralitas dari konsekuensi perbuatannya.

Jadi, keputusan menjadi baik karena memang sesuai dengan “kewajiban”, dan dianggap buruk karena memang “dilarang.” Prinsip dasar konsep ini adalah tugas (duty) individu untuk kesejahteraan sesama dan kemanusiaan.

Typical penganut pendekatan ini adalah orang-orang beragama (ikut ketentuan/kewajiban dalam agama) dan orang hukum. Tokoh pengembang konsep ini adalah Immanuel Kant (w 1804). Kant mengembangkan konsep filsufi moralnya dalam tiga karyanya: Fundamenial Principles of the Metaplysic of Morals (1785), Critique of Practical Reason (1788), and Metaphysics of Morals (1798).

Teorinya yang disebut Kantianism Deontologi mengatakan bahwa, keputusan moral harus berdasarkan aturan-aturan dan prinsip-prinsip universal, bukan “hasil” atau “konsekuensi” seperti dalam teleologi.

Perbuatan baik bukan karena hasılnya tapı karena mengikuti suatu prinsip yang baik berdasarkan kemauan yang baik. “Kant percaya akan konsep terpenting dalam moral, yaitu good will (niat baik)” Sebagai contoh, mahasiswa dikatakan baik bila ia tidak menyontek karena tahu itu “salah” bukan karena ia “takut tertangkap”.

Dasar dari konsep ini adalah disebutnya sebagai “Kategori Imperatif”, prinsip-prinsip yang atau aturan-aturan yang memang secara umum (universal) dipraktıkkan atau diterima. Suatu kewajiban yang tidak bersyarat atau kewajiban yang harus dilakukan tanpa memandang kemauan atau perasaan kita.

Suatu perbuatan adalah baik karena memang harus dilakukan (= kewajiban). Jadi, sesuatu menjadi baik karena berdasarkan “kategori imperatif” yang mewajibkan kita begitu saja, tak tergantung syarat apa pun.

Dasar filosofis Immanuel Kant tentang manusia untuk Deontologi adalah “Manusia adalah suatu tujuan untuk dirinya. Sehingga manusia harus dihormati sebagai suatu tujuan tersendiri, tidak boleh dijadikan sarana untuk tujuan lain”.

Masalah yang terjadi dalam penerapannya berada Pada pengertian Kant tentang duty (kewajiban). Bila tindakan berdasarkan perasaan atau lainnya yang tidak sesuai dengan tugas manusia terhadap sesama dan kemanusiaan, maka menjadi tidak etis. Sebagai contoh “Petrus (Penembak misterius di zaman Orba, Utilitarisme=OK, Deontologi=No; SDSB, Judi di zaman Ali Sadikin, Terorisme dengan alasan jihad.

Demikianlah informasi mengenai topik yang berjudul Apa Yang Dimaksud Dengan Deontologi? Ini Artinya. Semoga informas ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Daftar Pustaka/Referensi: 

Badroen, F. 2012. Etika Bisnis dalam Islam. Cet 3. Jakarta: Kencana. Hlm: 30-31

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *