Alasan Diadakannya Referendum di Timor Timur Adalah? Ini Sejarahnya


Referendum di Timor Timur – Referendum Timor Timur adalah akhir menegangkan polemik Timor Timur yang terjadi 22 tahun lamanya. Persoalan ini sampai membuat malu Indonesia. Walau sudah banyak upaya namun tak kunjung selesai. Bahkan forum internasional malah mendukung timor-timur.

Persoalan ini cukup panjang, ada banyak faktor-faktor yang mendasari adanya referendum timor-timur. Latar belakangnya karena Timor-Tumur pernah dikuasai banyak negara seperti Portugis pada 1520, kemudian Spanyol pada 1522, Belanda daerah bagian barat tahun 1613, dan Inggris 1812-1815.

Usai Inggris pergi, Timor-Timur jadi rebutan Belanda dan Portugis, portugis mendapatkannya. Bahkan saat Jepang kalah, provinsi Timor Timur ada dalam genggaman Portugis hingga 1975 dengan partai yang mengontrolnya ialah Frente Revolucionária Timor Leste Independente (Fretilin) dan November 1975 mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai Republik Demokratik Timor Leste.

Pasukan Indonesia pada 7 Desember 1975 menduduki wilayah itu dan tahun selanjutnya mendeklarasikan bahwa Timor-Timur atau Timtim adalah bagian dari NKRI. Hal inilah sehingga pada tahun berikutnya muncul konflik berkepanjangan.

Konflik memanas saat tahun 1991, karena tentara Indonesia melepaskan tembakan ke 4.000 orang pro kemerdekaan dan dikenal sebagai pembantaian Santa Cruz. Ini membuat terdapat 200 orang tewas.

Ada banyak pihak yang ingin membuat isu Timor-Timur memanas dan semakin memanas untuk mempermalukan Indonesia di dunia internasional. Disisi lain, Indonesia juga terus membuktikan bahwa pelanggaran HAM tuduhan itu tidak sepenuhnya benar. Sebab tidak ada sedikitpun orang yang ingin keutuhan dan kesatuan NKRI terkoyak.

Persiapan Rerefendum Timor-Timor

7 Bulan saat Bj Habibie memegang kekuasaan pada 19 Desember 1998, PM Australia John Howard minta untuk meninjau ulang referendum bagi rakyat Timor-Timur dengan pertemuan di Bina Graha pada 27 Januari 1999 dengan sidang lebih dari lima jam itu, memutuskan Indonesia akan lepas tangan dari Timor-Timur ketika mereka menolak opsi penyelesaian konflik Timor Timur yaitu tawaran otonomi khusus yang diperluas.

Dalam sejarah ini, konfik memanas antara pro Integrasi dan pro kemerdekaan. Pada 21 April 1999 keduanya menjalain kesepakatan damai di kediaman Uskup Dili, Mgr Carlos Filipe Ximenes. Kesepakatan damai ini disaksikan Menhankam/Pangab TNI Jenderal Wiranto, Wakil Ketua Komnas HAM Djoko Soegianto, dan Uskup Baucau Mgr Basilio do Nascimento.

Presiden Habibie mengambil jalan untuk mengetahui apa kemauan rakyat Timor-Timur, apakah ingin memisahkan atau tetap berintegrasi. Atas hal itu, Menteri Luar Negeri (Menlu), Ali Alatas dan Menlu Portugal Jaime Gama, bersama Sekretaris Jendeal PBB Kofi Annan menandatangani kesepakatan pelaksanaan referendum pada 8 Agustus 1999 di Timor Timor.

Walau demikian, tetap saja Indonesia bertanggung jawab atas keamanan dan sidang Umum PBB menerima dengan bulat kesepakatan itu pada 7 Mei 1999. Implementasinya, pada 11 Mei membuat penentuan pendapat yang menunjuk Menko Polhukam Feisal Tanjung sebagai penanggung jawab, dengan anggota Menhankam Jenderal Wiranto, Menlu Ali Alatas, Mensesneg Muladi, Mendagri Syarwan Hamid, dan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara ZA Maulani.

Itulah mengapa pada 17 Mei 1999 keluar Keputusan Presiden (Keppres) No. 43/1999 tentang Tim Pengamanan Persetujuan RI-Portugal di Timtim. Keppres itu dimantapkan dengan Instruksi Presiden (Inpres) No. 5/1999 tentang Langkah Pemantapan Persetujuan RI-Portugal.

Melalui Mensesneg Muladi, pemerintah Indonesia meminta PBB memajukan penentuan pendapat, dari 8 Agustus menjadi tanggal 7 Agustus 1999. Itu karena 8 Agustus 1999 peribadan umat Katolik yaitu hari minggu. Pada 1 Juni 1999 baru masuk ke Timor-Timur hingga pada pada 3 Juni 1999 meresmikan misi dikenal UNAMET yang diketuai oleh Ian Martin.

Namun ternyata terjadi kerusuhan yang dilakukan pihak pro integrasi di Dili. Dipertemukan kembali oleh pro kemerdekaan di Jakarta pada 16-18 Juni 1999 bersepakat untu menyerahkan senjata. Setelah kesepakatan penyerahan senjata tercapai, pada 23 Juni 1999 pemerintah Indonesia mengirimkan 4.4452 anggota Polri untuk mengamankan pelaksanaan jajak pendapat di Timtim.

Pada 26 Juni 1999, Sekjen PBB Kofi Annan merespon permintaan perubahan jadwal pelaksanaan yang sebelumnya diajukan Indonesia dan memutuskan menunda pelaksanaan jajak pendapat di Timtim, dua minggu dari tanggal yang ditentukan, sehingga rencana berubah menjadi tanggal 21 Agustus.

Untuk menyukseskan referendum sejak tanggal 16 Juli-8 Agustus mulai diadakan pendaftaran pemilih. Secara umum, hari pertama pendaftaran berlangsung aman, kecuali di Kecamatan Zumalai, Kovalima, terjadi kerusuhan yang mengakibatkan satu korban tewas dan lima luka-luka.

Di tengah-tengah masa pendaftaran referendum, PBB kembali merubah keputusan pelaksanaan referendum yang dirubah menjadi tanggal 30 Agustus 1999. Masa kampanye untuk refrendum dibuka pada tanggal 14 Agustus 1999. Rencananya masa kampanye ini berlangsung sampai 26 Agustus. Di hari yang sama kelompok pro-otonomi dan pro-kemerdekaan sepakat menciptakan kampanye damai hingga putaran terakhir.

Alasan Diadakannya Referendum di Timor Timur Adalah? Ini Sejarahnya (Foto: Artikelsiana.com)
Alasan Diadakannya Referendum di Timor Timur Adalah? Ini Sejarahnya (Foto: Artikelsiana.com)

Alasan Diadakannya Referendum di Timor Timur Adalah? 

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa alasan diadakannya referendum timor timur adalah:

Alasan diadakannya referendum di timor timur yaitu karena perjuangan warga timor timur semakin menguat dan mendapat dukungan PBB dari negara-negara barat sampai akhirnya berhasil merdeka setelah mengadakan referendum pada tanggan 30 agustus 1999. Bahkan banyak negara asing yang mendukung dan sengaja memanfaatkan situasi karena pada saat itu adalah masa genting saat perahilan kekuasaan dari Soeharto ke B.J Habibie.

Selain itu melihat konflik yang berkepanjangan dan bahkan sampai-sampai korban mencapai lebih dari 200.000 jiwa Timor Timur tewas akibat pergolakan. Begitu pula yang dilakukan oelh Fretilin (pihak anti bergabung dengan Indonesia) yang melakukan pembantaian massal. Pada 4 September 1999 SekJen PBB mengumumkan hasil referendum di Timor Timur sebanyak 79% memilih untuk merdeka, dan 21% memilih untuk tetap bergabung dengan Indonesia.

Demikianlah informasi mengenai Alasan Diadakannya Referendum di Timor Timur Adalah? Ini Sejarahnya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam berbagi teman-teman. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *