Peristiwa Madiun/PKI dan Cara Pemerintah dalam Penanggulangannya


Peristiwa Madiun PKI dan Cara
yang Dilakukan Pemerintah dalam Penanggulangannya |
Sejarah Peristiwa Madiun PKI | Sejarah PKI di Madiun  | Bagaimanakah cara pemerintah melawan PKI di madiun ??… Sejarah Peristiwa Madiun PKI ??…Latar belakang Terjadinya PKI di madiun dan sebabnya, Semua itu akan dibahas seperti dibawah ini, Peristiwa-peristiwa tidak memadamkan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk melawan segala pemberontakan-pemberontakan  seperti peristiwa madiun PKI. Berikut ulasan tentang Peristiwa Madiun PKI dan cara Pemerintah dalam Penanggulangannya
Penyebab Pemberontakan Madiun PKI
(PKI ) 
Peristiwa Madiun/PKI dan Cara Pemerintah dalam Penanggulangannya
Pada waktu bangsa Indonesia
sedang berjuang melawan Belanda dengan perjuangan bersenjata maupun diplomasi
setelah kemerdekaan, bangsa kita harus menghadapi pemberontakan PKI Madiun.
Pemberontakan yang terjadi pada tahun 1948 ini merupakan pengkhianatan terhadap
bangsa Indonesia ketika sedang berjuang melawan Belanda yang berupaya
menanamkan kembali kekuasaannya di Indonesia. 
Para pemimpin pemberontakan ini
di antaranya adalah Amir Syarifuddin dan Musso. Amir SyarifuPerjanjian
Renville
. Ia merasa kecewa karena kabinetnya jatuh kemudian membentuk Front
Demokrasi Rakyat (FDR) padatanggal 28 Juni 1948 dan melakukan pemberontakan di Madiun. diri adalah mantan
Perdana Menteri dan menandatangani
Musso pemberontakan PKI madiun tahun 1948
(Musso, Seorang pemberontakan PKI madiun tahun 1948)
Sedangkan Musso adalah Tokoh PKI
yang pemah gagal melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda
pada tahun 1926. Setelah gagal ia melarikan diri ke luar negeri. Selanjutnya ia
pulang ke Indonesia bergabung  dengan
Amir Syarifuddin untuk mengadakan propaganda- propaganda anti pemerintah di
bawah pimpinan Sukarno Hatta.
Front Demokrasi Rakyat (FDR) ini didukung oleh Partai Sosialis
Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia, PKI, dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh
Indonesia (SOBSI). Kelompok ini seringkali melakukan aksi-aksinya antara lain:

(1) melancarkan propaganda anti
pemerintah,
(2) mengadakan
pemogokan-pemogokan kerja bagi para buruh di perusahaan misalnya di pabrik
karung di Delanggu Kiaten.
(3) melakukan pembunuhan-pembunuhan
misalnya dalam bentrokan senjata di Solo tanggal 2 Juli 1948, Komandan Divisi LIV
yakni Kolonel Sutarto secara tiba-tiba terbunuh Pada tanggal 13 September 1948
tokoh pejuang 1945, Dr. Moewardi diculik dan dibunuh.

        Aksi pengacauan di Solo yang
dilakukan PKI ini selanjutnya meluas dan mencapai puncaknya pada tanggal 18
September 1948. PKI berhasil menguasai Madiun dan sekitarnya seperti Blora,
Rembang, Pati, Kudus, Purwadadi, Ponorogo, dan Trenggalek. PKI mengumumkan berdirinya
“Soviet Republik Indonesia.” Setelah  menguasai
Madiun para pemberontak melakukan penyiksaan dan pembunuhan besar-besaran.
Pejabat-pejabat pemerintah, para perwira TNI dan polisi, pemimpin-pemimpin
partai, para ulama, dan tokoh-tokoh masyarakat banyak yang menjadi korban
keganasan PKI.  Pemberontakan PKI di
Madiun inl bertujuan méruntuhkan pemerintah RI yang berdasarkan Prokiamasi 17
Agustus 1945 yang akan diganti dengan pemermntahan yang berdasar paham komunis.
      Kekejaman PKI ketika melakukan pemberontakan
pada tanggal 18 September 1948 tersebut mengakibatkan kemarahan rakyat. Oleh
karena itu pemerintah bersama rakyat segera mengambil tindakan tegas terhadap
kaum pemberontak.
     Dalam usaha mengatasi keadaan, Pemerintah
mengangkat Kolonel Gatot Subroto sebagai Gubernur Militer Daerah Istimewa
Surakarta dan sekitarnya, yang meliputi Semarang, Pati, dan Madiun. Panglima
Jenderal Sudirman segera memerintahkan kepada Kolonel Gatot Soebroto di Jawa
Tengah dan Kolonel Soengkono di Jawa Timur agar mengerahkan kekuatan kekuatan
TNI dan polisi untuk menumpas kaum pemberontak, Karena Panglima Besar Jenderal
Sudirman sedang sakit maka pimpinan operasi penumpasan diserahkan kepada
Kolonel A. H. Nasution, Panglima Markas Besar Komando Jawa (MBKD).
      Walaupun dalam operasi penumpasan
PKI Madiun ini menghadapi kesulitan karena sebagian besar pasukan TNI menjaga
garis demarkasi menghadapi Belanda, dengan menggunakan dua brigade kesatuan cadangan
umum Divisi III Siliwangi dan brigade Surachmad dan Jawa Timur serta kesatuan-kesatuan
lairinya yang setia kepada negara Indonesia maka pemberontak dapat ditumpas.
       Pada tanggal 30 September 1948 seluruh
kota Madiun dapat direbut kembali oleh TNI. Musso yang melarikan diri ke luar
kota dapat dikejar dan ditembak TNI. Sedangkan Amir Syarifuddin tertangkap di
hutan Ngrambe, Grobogan, daerah Puwadadi dan dihukum mati. Akhirnya
pemberontakan PKI di Madiun dapat dipadamkan meskipun banyak memakan korban dan
melemahkan kekuatan pertahanan RI.
Sekin Penjelasan tentang Peristiwa Madium PKI dan cara Pemerintah dalam Penanggulangannya, Semoga Bermanfaat 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *